Cerita di Balik Serangan Umum 1 Maret 1949, Disebar dari Rumah Petani hingga Terdengar PBB

Serangan Umum 1 Maret 1949 diwacanakan menjadi Hari Nasional

Galih Priatmojo
Selasa, 16 November 2021 | 14:59 WIB
Cerita di Balik Serangan Umum 1 Maret 1949, Disebar dari Rumah Petani hingga Terdengar PBB
tugu peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949. [Kontributor / Julianto]

Kabar TNI menguasai Yogyakarta, yang sampai ke PBB tentu membuat berang pemerintah Belanda. Dan pada 10 Maret 1949, Belanda menggelar operasi militer besar besaran untuk menyerbu Gunungkidul, dengan target menangkap Jenderal Sudirman dan menemukan stasiun radio AURI.

Serangan ini diawali dengan memborbardir lapangan udara Gading, dan menerjunkan 300 personil lintas udara. Di darat, Belanda mengerahkan lebih dari 3000 tentara untuk menyerbu Gunungkidul. Operasi militer ini adalah operasi militer terbesar kedua, setelah aksi Agresi militer ke dua.

Operasi militer ini dianggap sebagai salah satu operasi militer yang gagal, karena tidak berhasil menangkap Jenderal Sudirman atau menemukan stasiun radio AURI. Hal ini menurut Soeroso tidak lepas dari peran warga masyarakat yang ikut berjuang dalam melindungi para tentara TNI.

"Tentara Belanda sebetulnya sudah sangat dekat, hanya 50 meter dari sini, di perempatan situ, tapi mereka mengambil arah yang salah," lanjut Soeroso sambil menunjukan perempatan di rumah.

Baca Juga:Terlindas Truk di Gunungkidul, Satu Keluarga Tak Bisa Jalan dan Tak Ada Penghasilan

Saat ini rumah Prawirosetomo sudah dihibahkan ke AURI dan sudah dibangun Monumen Radio Satu Maret. Halaman rumah tampak teduh oleh pepohonan, dan bentuk rumah masih dipertahankan sesuai aslinya. Di depan rumah tampak tugu peringatan yang menjulang tinggi dengan tulisan maklumat perjuangan.

Kontributor : Julianto

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak