"Silakan masuk," kata Suyanto (70).
Siapa sangka ruangan rumah yang tak terlalu luas dan dipenuhi kain bahan pakaian itu punya banyak cerita sejarah. Ya, rumah itu adalah bekas dapur umum yang dulu digunakan Bu Ruswo untuk memasak dan memberi makan para gerilyawan di medan perang.
"Ini semua masih asli. Ada memang beberapa yang sudah dipugar. Tapi untuk dua ruangan ini masih asli," ujarnya sambil menunjukkan dua ruang di rumah itu.
Ventilasi, jendela, ubin hingga etenit, disebutnya masih asli sejak zaman dulu. Meskipun memang sudah sejak tahun 1980an, ia dan istrinya menempati rumah tersebut. Tak ada perubahan banyak yang dilakukan selama ini.
Baca Juga:10 Tahun Berjualan, Pedagang Lawar Babi di Bali Ini Merasa Belum Merdeka
Saat ini rumah tersebut lebih dikenal sebagai tempat Penjahit Garuda. Namun ada satu yang kemudian menjadi identitas asli bahwa rumah itu yakni ukiran nama 'Roeswo' di bagian depan rumahnya.
"Tulisan itu (Roeswo) tak boleh dihilangkan," ucapnya.
Sakralnya tulisan itu juga disampaikan oleh Iswati (74) yang merupakan istri dari Suyanto.
"Rumah ini ada tulisan nama Roeswo. Itu tidak boleh dihilangkan, dijaga sebagai sejarah," kata Iswati ditemui lebih dulu pada Selasa (9/8/2022).
Sama seperti kata sang suami, Iswati menuturkan bahwa dua ruangan rumah itu masih asli dari segi konstruksi bangunan dan sebagainya. Selain ukiran nama di depan rumahnya, bukti rumah tersebut milik Ibu Ruswo adalah dari nota pembayaran listrik.
"Dulu ini memang dapur umum. Ini ventilasi masih asli. Ini pintu juga masih asli. Untuk pembayaran listrik masih atas nama Bu Roeswo Prawiroseno. Kenangannya cuma listrik itu," ungkapnya.