Kasus Henti Napas Saat Bersepeda Tinggi di Jogia, Ini Saran Dokter Kesehatan

Menurut Dian, persiapan yang seadanya saat bersepeda, termasuk asupan makanan yang sembarangan juga bisa berpengaruh pada kesehatan pesepeda saat gowes.

Galih Priatmojo
Jum'at, 09 September 2022 | 20:24 WIB
Kasus Henti Napas Saat Bersepeda Tinggi di Jogia, Ini Saran Dokter Kesehatan
Dokter kesehatan, dr Dian Budiani dan pembicara lain menyampaikan tentang cara tepat bersepeda dalam Pruride 2022 di Yogyakarta, Jumat (09/09/2022). [Kontributor / Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Bersepeda menjadi salah satu gaya hidup yang berkembang pesat pasca pandemi COVID-19. Tak hanya secara mandiri, banyak komunitas sepeda yang bermunculan.

Namun banyak pesepeda yang tidak memperhatikan aturan bersepeda dengan benar. Akibatnya banyak terjadi  kasus henti napas atau jantung akibat pesepeda kelelahan.

Di DIY misalnya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, sejumlah kasus henti nafas akibat bersepeda terus muncul. Sebut saja kasus pesepeda yang meninggal dunia di Jalan Godean pada 5 Oktober 2020, kasus pesepeda meninggal di kawasan Yogyakarta International Airport (YIA) pada 19 Juli 2020 hingga pesepeda asal Sukoharjo yang meninggal di Gunung Kidul pada 27 Maret 2022 lalu.

"Kasus henti napas saat bersepeda terjadi karena kita tidak mengenal kondisi kesehatan tubuh kita, apakah memiliki riwayat penyakit atau tidak," ujar dokter kesehatan, dr Dian Budiani dalam Pruride 2022 di Yogyakarta, Jumat (09/09/2022).

Baca Juga:Disdikpora Kota Yogyakarta Salurkan Bosda untuk Kelas Khusus Olahraga

Menurut Dian, persiapan yang seadanya saat bersepeda, termasuk asupan makanan yang sembarangan juga bisa berpengaruh pada kesehatan pesepeda saat gowes. Sebab tidak semua jenis karbohidrat yang dikonsumsi bisa membantu carbo loading saat menggenjot sepeda.

Mereka juga seringkali hanya ingin cepat sampai tanpa melihat track jalan yang mereka lewati. Padahal tanjakan bisa menguras tenaga, apalagi bagi pesepeda yang jarang berolahraga.

"Pesepeda harus memperhatikan kecepatan saat berolahraga, hindari jalur tanjakan bila memungkinkan. Emosi harus dijaga, tidak perlu nafsu untuk sampai agar tidak kehilangan ritme nafas dan kekurangan oksigen," paparnya.

Chief Operations and Health Officer Prudential Indonesia tersebut menambahkan, para pesepeda juga harus memperhatikan jam istirahat mereka. Kalau memang dalam kondisi kurang tidur atau tidak fokus, maka disarankan tidak bersepeda dengan track yang jauh.

Apalagi bagi pesepeda yang sudah berusia diatas 40 tahun, mereka perlu berkonsultasi terlebih dulu bila ingin bersepeda. Mereka tidak boleh tergoda ikut-ikutan bersepeda dengan anak muda yang usianya jauh dibawah mereka.

Baca Juga:Peringati Haornas 2022, Jokowi: Olahraga Bukan Sekadar Gaya Hidup dan Latihan Fisik Belaka

"Yang penting mengikuti kemampuan diri, tidak perlu ikut-ikutan. Jangan ngoyo (ngotot-red) sehingga heart rate jadi melebihi yang seharusnya," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak