Klitih Bukan Budaya Jogja, Arif: Ia Adalah Sejarah Kekerasan yang Terulang

kejahatan klitih terus berulang terjadi di kawasan Jogja dan sekitarnya

Galih Priatmojo
Jum'at, 25 November 2022 | 07:00 WIB
Klitih Bukan Budaya Jogja, Arif: Ia Adalah Sejarah Kekerasan yang Terulang
Ilustrasi klitih (Suara.com/Iqbal Asaputro)

SuaraJogja.id - Persoalan kejahatan jalanan oleh remaja di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang masih kerap populer dengan sebutan klitih, dibahas dalam diskusi terpumpun oleh Polda DIY dan sejumlah pihak, di Hotel Merapi Merbabu, Kamis (24/11/2022).

Salah satu narasumber yang hadir, seorang psikolog pensiunan Mabes Polri, yakni Kombes Pol Arif Nurcahyo, Psi. lelaki yang merupakan Eks Assesor Utama Bagpenkompeten SSDM Mabes Polri itu mengungkap, klitih merupakan fenomena perilaku remaja di Jogja yang berisiko.

"Mereka ini remaja, yang sedang memasuki masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Remaja tergambarkan sebagai sosok yang memiliki badan besar, tetapi secara pola pikir banyak yang masih seperti anak kecil," ujarnya.

Dalam menjalani kehidupan, remaja melakukan banyak eksplorasi dalam hidup mereka, hal itu juga mereka lakukan bersama teman sebaya. Ditambah lagi dengan dinamika media sosial kekinian. 

Baca Juga:Diduga Pelaku Klitih, 2 Remaja Digelandang ke Mapolsek Ngaglik

"Saat bersama teman sebaya, mereka mengeksplorasi secara kolektif. Kalau sudah begitu, mereka belum tentu dapat guru yang benar, padahal masa transisi ini cukup berisiko. Salah-salah mereka justru bisa bertemu narkoba dan lain-lain," ujarnya. 

Hal lain yang perlu kita tahu dalam konteks kriminalitas yakni bahwa, kriminalitas adalah bayang-bayang masyarakat. Potret masyarakat di sekeliling kita. Terkadang, ada hal-hal buruk yang sebetulnya ada dan muncul di lingkungan, kemudian tanpa sadar ditiru, demikian penjelasan Arif. 

"Anak broken home nakal, belum tentu. Anak yang diasuh keluarga baik-baik akan jadi anak baik, itu juga belum tentu. Karena ada peristiwa yang bisa memengaruhi kita, demikian juga sebaliknya," terangnya, yang pernah dimutasi jadi Pamen Polda DIY itu. 

Sejarah Yang Berulang Dengan Berciri Lokal

Fenomena adanya klitih, yang kemudian bergeser menjadi kejahatan jalanan, menjadi kriminalitas khas di Jogja. Tak jauh berbeda dengan geng motor di Bandung dan tawuran di Jakarta. 

Baca Juga:Prestasi Komjen Pol Ahmad Dofiri yang Pimpin Sidang Kode Etik Ferdy Sambo, Sikat Klitih hingga Hoaks Sri Sultan HB X

"Tapi seharusnya kita malu ya, berkali-kali diskusi [soal klitih] tapi tidak ada eksekusi," kelakarnya dalam forum.

Bila ingin menarik garis sejarah, kita perlu mengingat bahwa pada sekitar tahun 80-an, Jogja diwarnai dengan keberadaan 'gali' atau preman. Gali muncul karena pelakunya tak memiliki role model dan pendidikan yang baik di rumah. 

Selanjutnya pada 1983 muncul Petrus, penembak misterius yang ditugaskan menumpas para gali tadi. Tujuannya, agar gali dan preman tak menjadi role model bagi anak-anak muda di masa itu, serta menjaga 'muka' aparat. 

"Lalu pada 2000-an ada klitih. Jadi sejarah kekerasan itu berulang. Di Jogja, klitih yang sebetulnya jauh dari tindak kriminal, kemudian lewat dinamika psiko-sosial mengalami perluasan makna yang sifatnya peyoratif," sebutnya.

Sosiolog Kriminalitas Universitas Gadjah Mada Suprapto mengungkap, kendati melakukan kejahatan jalanan, remaja yang disebut pelaku klitih diketahui memiliki sejumlah kesepakatan. Misalnya tidak menyerang orang tua, tidak menyerang perempuan, tidak akan menyerang lelaki dan perempuan yang berboncengan. 

"Kalau ada driver ojol diserang, ada perempuan diserang di jalanan, itu bukan mereka [remaja klitih]," imbuhnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak