ORI Datangi Korban Klitih di Gunungkidul yang Pulang Paksa dari Rumah Sakit karena Tak Ada Biaya Operasi

pedagang sayur korban klitih terpaksa pulang karena tak ada biaya untuk operasi

Galih Priatmojo
Rabu, 18 Januari 2023 | 20:47 WIB
ORI Datangi Korban Klitih di Gunungkidul yang Pulang Paksa dari Rumah Sakit karena Tak Ada Biaya Operasi
Perwakilan ORI datangi korban klitih di Gunungkidul yang terpaksa pulang karena tak punya biaya untuk operasi, Rabu (18/1/2023). [Kontributor/Julianto]

SuaraJogja.id - Sumirah (54) perempuan asal Dusun Putat 2 Kalurahan Putat Kapanewon Patuk Gunungkidul ini masih terbaring di tempat tidurnya. Di kamar berukuran 3x4 meter dengan sebagian dinding hardboard perempuan ini menunggu keluarganya mendapatkan biaya operasi hidungnya.


Menantu Sumirah, Rahayu menuturkan, sampai saat ini Ibu Mertuanya tersebut hanya berbaring di tempat tidur. Darah masih sering keluar dari lubang hidungnya setelah divonis oleh dokter tulang hidungnya patah.


"Ibuk itu sekarang tidak bisa bernafas melalui hidung. Jadi harus melalui mulut,"kata wanita yang akrab dipanggil Ayuk ini, Rabu (18/1/2023) saat menerima kunjungan Ombudsman Republik Indonesia atau ORI DIY.


Pihak keluarga sendiri tengah berupaya mencari biaya untuk operasi hidung Sumirah. Biaya operasinya cukup besar untuk ukuran mereka yang termasuk keluarga miskin. Sebab, dokter mengatakan untuk operasi tersebut keluarga harus menyediakan uang minimal Rp 15 juta.

Baca Juga:Dua Kelompok Remaja di Gunungkidul Terlibat Bentrok, Sejumlah Pelaku Jadi Bulan-bulanan Warga


Dokter, lanjut Ayuk, mengungkapkan rencananya hidung ibunya akan dipasang minimal 2 buah pen. Padahal harga sebuah pen mencapai Rp 5 juta sehingga secara keseluruhan biaya rumah sakit memang di atas Rp 15 juta.


"Nah kami bingung soalnya tidak tercover BPJS Kesehatan meski jadi peserta dari pemerintah,"terang dia.


Dia mengungkapkan ketika pertama kali datang ke rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan jika apa yang dialami oleh Sumirah tersebut adalah kasus pertama yang mereka tangani. Sehingga untuk pembiayaan nanti akan diinformasikan oleh pihak Bangsal.


Kala itu, pihak bangsa mengatakan karena ibu mertuanya adalah korban kriminalitas maka tidak bisa tercover BPJS Kesehatan ataupun Jasa Raharja. Pihak rumah sakit menyarankan agar ke Dinsos untuk mengurus Jamkesda.


" Karena rumah sakit mengatakan biasanya bisa menggunakan Jamkesda,"ungkap dia.

Baca Juga:Pantai Gesang Jadi Pangkalan Pendaratan Ikan, Dispar Gunungkidul Koordinasi Pemda DIY


Saat itu juga dia  langsung ke Dinsos Gunungkidul. Tetapi Dinsos juga memberikan keterangan yang sama.di mana pengobatan ibu mertuanya tidak bisa dicover dengan jaminan apapun karena ada undang-undang. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak