Pemugaran terakhir terjadi pada tahun 2008 usai bangunan makam tersebut ambruk sebagian dampak dari gempa 2006 silam. Perbaikan dan perawatan sehari-hari itu dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah.
“Saya tiap hari menyapu, ngepel tiga hari sekali. Terus nanti kalau ada genteng yang bocor, atau cat yang udah pudar itu saya laporan ke dinas. Lalu dinas mengirim tukang untuk memperbaiki. Berbagai perlangkapan kebersihan juga dari dinas pusat, Jakarta,” paparnya.
Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio RI Aji Sampurno, menambahkan bahwa sosok RM Suryopranoto memang terkenal dengan kegigihannya memperjuangkan hak-hak pribumi dan para buruh kala itu. Bahkan ia dikenal sebagai sesok yang tak pernah mau menunjukkan sisi kebangsawanannya.
![Makam RM Suryopranoto. [suarajogja.id/Hiskia Andika Weadcaksana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/08/17/49721-makam-rm-suryopranoto.jpg)
Hal itu juga yang disinyalir membuat RM Suryopranoto memilih membeli tanah pemakaman sendiri. Tidak dimakamkan bersama dengan pahlawan-pahlawan lainnya.
Baca Juga:Menyusuri Rumah Sukarni di Jogja: Tempat Diskusi Adam Malik dan Tan Malaka hingga Diserang Bom
"Memang karena sejak awal dia tidak mau disebut sebagai bangsawan. Ssehingga dia memilih dimakamkan di tempat umum," kata pria yang akrab disapa Rio itu.
Julukan raja mogok itu juga diterima Suryopranoto atas berbagai aksinya mengakomodir aksi mogok kerja para buruh pada masa pemerintahan kolonial. Sehingga meskipun berasal dari kaum bangsawan, Suryopranoto tak pernah berjarak dengan rakyat kecil serta buruh.
"Iya pro kepada rakyat kebanyakan. Itu terlihat ketika dia menjadi pegawai pertanian di Bogor itu sudah mulai ketimpangan. Sehingga dia tidak sepakat untuk ada perbedaan itu. Lebih kepada (ketimpangan) antara pribumi dan kolonial," tuturnya.
Suryopranoto merupakan seorang tokoh pergerakan kebangsaan Indonesia yang tak ragu untuk mengorbankan derajat dan martabatnya sebagai seorang bangsawan. Ia aktif dalam perjuangan dalam memperbaiki nasib buruh dan membebaskan penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.
Hingga akhir hayatnya diketahui RM. Suryopranoto terus aktif dalam dunia pendidikan dan kepenulisan. Dia meninggal dunia pada 15 Oktober 1954 dalam usia 88 tahun di Cimahi, Bandung, Jawa Barat.
Baca Juga:Malam Bikin Bediding, Siang Sangat Terik di Jogja, Ternyata Ini Penyebabnya
Untuk menghargai jasa-jasanya RM Suryopranoto diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Republik Indonesia. Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Presiden RI tanggal 30 November 1959, Nomor: 310 Tahun 1959. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1960, Presiden Soekarno menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Tingkat II kepada Almarhum R.M. Suryopranoto.