Roeslan Abdulgani menyebut kesadaran Soekarno bahwa meja makan merupakan ruang yang paling efektif untuk memberi asupan politisnya ketika ibu kota masih berada di Yogyakarta.
Lihat saja betapa Soekarno ikut menyibukkan diri mengurus urusan dapur saat menggelar acara kenegaraan di Istana.
Tak cuma posisi duduk, bahkan urusan detil menu yang akan disajikan, Soekarno juga ikut campur tangan.
Layaknya seorang konduktor, ia mengorkestrasikan setiap menu yang akan dihidangkan untuk para tamu negara dengan beragam kuliner nusantara.
Baca Juga:Jokowi Mau Lewat, Satpol PP Bali Sebut Tak Hanya Copot Baliho Ganjar-Mahfud dan PDIP Saja
Masih menukil dari buku Mustikarasa, Soekarno menginstruksikan agar menu Eropa diganti dengan kuliner khas Indonesia dari mulai soto, gado-gado hingga sate.
Bahkan untuk kudapan ia juga meminta agar ditampilkan klepon, pukis, lemper hingga kue lapis.
Bisa dibayangkan bukan, meja makan Istana kala itu bak catwalk untuk kuliner nusantara yang selama masa penjajahan Belanda nyaris tak punya panggung terhormat.
Kebiasaan Soekarno soal politik meja makan itu berlanjut kala menggelar Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Tanpa gengsi, Soekarno menampilkan keunggulan produk kuliner Sunda hingga Jawa mulai dari sate, wedang bajigur, bandrek, colenak, rengginang hingga opak.
Baca Juga:Pesan Jokowi Ke 3 Capres: Jangan Saling Fitnah, Menjelekkan Dan Merendahkan
Responnya? Tentu sangat luar biasa. Bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru hingga sejumlah delegasi sampai ketagihan dan memutuskan untuk ngiras langsung ke warung makan sate Madrawi.