"Dia itu anaknya periang ceria kalau di rumah ada dia itu suasana rumah itu jadi hangat jadi ceria. Sama adiknya itu sayang sekali, kalau adiknya kemana-mana dianterin, kalau ngerjain PR gak bisa dia bantuin," ungkapnya.
"Kehilangan Dewi kayak kehilangan separuh nyawa. Rumah jadi sepi, adanya orang pada sedih nangis. Dia kan anak kesayangan bapaknya. Pokoknya dia kayak matahari keluarga lah," imbuhnya.
Disampaikan Ngadinah, putrinya tersebut konsisten mendapat peringkat pertama ketika masih duduk di bangku sekolah. Hingga kemudian berhasil diterima kuliah di Fakultas Kehutanan UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM).
Dalam perkuliahannya pun Dewi juga termasuk mahasiswi yang berprestasi. Dewi dinyatakan lulus dengan predikat cum laude, dengan Indeks Prestasi Kumulatif sebesar 3,86.
Ngadinah menuturkan bahwa Dewi sempat mengungkapkan rencananya untuk segera bekerja selepas lulus. Ia bercita-cita untuk dapat mengumpulkan uang guna membiayai studi adiknya dan membayar utang orang tua.
"Dosen-dosennya menyuruh supaya S2 nanti diusulkan jadi dosen, tapi dia maunya bekerja dulu," imbuh sang ayah, Jono.
Kendati tidak sempat mengikuti pendadaran, Dewi telah dinyatakan lulus kuliah berdasarkan rapat senat fakultas. Hal itu berdasarkan rekam jejak studi Dewi yang baik.
Dekan Fakultas Kehutanan, Sigit Sunarta menuturkan bahwa Dewi memang dikenal cukup aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Selain itu Dewi turut terlibat dalam sejumlah penelitian yang dilakukan dosen pembimbingnya.
Skripsi Dewi yang berjudul "Distribusi Spasial dan Temporal Vokalisasi Tokek Hutan di Kawasan Hutan Desa Tahawa Kalimantan Tengah" bahkan memperoleh predikat A berdasarkan penilaian para penguji.
Baca Juga:Diikuti Ribuan Mahasiswa 13 Kampus di DIY, Paslon AMIN Unggul di TPS Khusus UGM
Sebagai bentuk penghargaan untuk dedikasi Dewi dalam melakukan riset, pihak fakultas pun berencana untuk menulis ulang skripsi tersebut untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.