Dalam surat tertanggal 26 Maret 1966 itu tertulis Sarno berpangkat Prajurit Satu (Pratu). Surat itu menjadi bukti dirinya pernah berjuang dari tahun 1960 menumpas DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Jawa Barat.
"Kemudian yang kedua di Sumatera pemberantasan PRRI," ucap Sarno.
Tak hanya itu, dia turut berjuang memberantas Kahar Muzakar di Sulawesi, terlibat dalam operasi Trikora merebut Irian Barat (Trikora) dan kemudian di tahun 1964 ia diberangkatkan ke Kalimantan.
Baru di tahun 1966 sampai 1967 ia ikut pembersihan G30S, dan disiagakan untuk operasi Timor timor (Timor Leste). Akhirnya di tahun 1969 ia selesai menjadi militer sukarela.
Baca Juga:Sering Hadiri Kegiatan Partai Lain, PKB Gunungkidul Belum Tentukan Sikap Dalam Pilkada 2024
"Kala itu, saya dapat bintang sewindu," kata dia.
Pada saat itu, beberapa rekannya melanjutkan karier kemiliterannya. Sementara Sarno tidak, padahal dirinya pada saat kemiliteran mmenyandang predikat wakil komandan. Perjuangannya selama 9 tahun, justru tak berpengaruh pada kariernya yang cemerlang.
Sayang, selepas tugas militer suka rela selesai tak ada pengakuan sebagai pejuang atau veteran yang ia sandang hingga sekarang. Dia kemudian menggantungkan hidupnya dengan menjadi keamanan pasar di wilayah Bandung baru kemudian pulang ke Gunungkidul. Dia memilih menjadi petani mengolah tanah di Gunungkidul.
Tahun 2014 lalu, ia mencoba mengajukan Calon Veteran namun tak berhasil. Beberapa tahun kemudian dirinya mencoba mendaftarkan diri lagi, namun juga tidak lolos. Sedih memang, tapi dia mencoba menerima apapun yang terjadi pada dirinya.
"Ada juga yang menjadi veteran, tapi saya kondisinya seperti ini," ucap dia.
Baca Juga:Diduga Cabuli 10 Muridnya, Oknum Guru Ngaji di Gunungkidul Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka
Salah seorang kerabat Sarno, Sukiran membenarkan jika selama ini Sarno hidup sebatang kara. Sarno 2 kali menikah, dulu menikah dengan orang Karangmojo selama 20 tahun namun kemudian meninggal. Setelah itu menikah lagi sekitar belasan tahun dan meninggal.