Korban Penusukan di Warung Sate Jogja Diketahui Santri, GP Ansor Beri Ultimatum ke Polisi

Ketua GP Ansor Kota Yogyakarta, Sholihul Hadi menyesalkan peristiwa penganiayaan tersebut.

Muhammad Ilham Baktora
Kamis, 24 Oktober 2024 | 15:14 WIB
Korban Penusukan di Warung Sate Jogja Diketahui Santri, GP Ansor Beri Ultimatum ke Polisi
Ilustrasi penusukan. [ANTARANews/Diasty Surjanto]

Pihak berwajib harus segera menindak pelaku pengeroyokan dan penusukan pada santri tersebut secara adil sesuai dengan aturan hukum, jika tidak maka GPAnsor dan Banser DIY akan mengambil sikap tegas.

"Menginstruksikan kepada semua kader GP ANSOR dan BANSER di DIY untuk tetap menjaga situasi dan kondusifitas di lingkungan masing-masing demi ketertiban bersama, serta tidak terpancing untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan kepentingan bersama yang lebih besar," imbaunya.

Dia juga menginstruksikan kepada semua kader GP Ansor dan Banser di DIY untuk tetap satu komando dan siap siaga menunggu intruksi satu komando bersama Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY.

Ketua GP Ansor Kota Yogyakarta, Sholihul Hadi menyesalkan peristiwa penganiayaan tersebut. Terlebih korban adalah santri yang sudah jelas identitasnya karena kedua korban mengenakan sarung. Dia menyayangkan meski sudah bersarung mengapa masih dihajar.

Baca Juga:Brutal, Rombongan Pemuda Mabuk Tusuk Pembeli Sate di Prawirotaman Jogja

Dia menandaskan jika GP Ansor DIY siap perang jika dalam 24 jam jika polisi tidak mengamankan pelaku. Mereka tidak perduli yang bakal dihadapi adalah pendatang.

"Kita tinggal nunggu perintah Gus Endar. Kami siap perang," kata dia.

Karena kejadian berada di wilayah Kota Jogja, maka dirinya yang ditunjuk untuk memberi komando. Namun demikian, pihaknya masih percaya dan memberi waktu ke pihak kepolisian untuk menangkap para pelaku.

Di sisi lain, pihaknya juga kembali mengungkapkan jika peristiwa tersebut karena dugaan pemicunya adalah miras. GP Ansor menandaskan agar peredaran miras dibatasi tidak seperti sekarang ini. Miras harusnya hanya dijual di hotel bintang lima tidak dijual bebas bahkan bisa dilakukan dengan pesanan online dan diantar ke pembeli.

"Kami tegaskan Ansor tidak menolak miras karena tidak semua penduduk DIY itu Islam. Tapi peredarannya dibatasi," ujar dia.

Baca Juga:Arus Lalu Lintas di Simpang Kronggahan Terdampak Proyek Tol Jogja, Durasi Lampu APILL Bakal Diperpanjang

Penganiayaan Berujung Penusukan

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak