Dari Poster Kemerdekaan Hingga Orba: Seni Cetak Grafis, Media Propaganda yang Terlupakan

ANRI maupun Perpustakaan Nasional (perpusnas) pun tidak memiliki banyak arsip seni cetak grafis.

Muhammad Ilham Baktora
Senin, 09 Desember 2024 | 08:12 WIB
Dari Poster Kemerdekaan Hingga Orba: Seni Cetak Grafis, Media Propaganda yang Terlupakan
Pengunjung memadati Festival Seni Cetak Grafis Trilogia 2024 di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta, Sabtu (7/12/2024) malam. [Kontributor Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Seni cetak grafis ternyata tak hanya sebuah karya seni. Seni ini ternyata jadi media propaganda politik sejak jaman kolonial Belanda .

Sayangnya, dokumentasi seni cetak grafis sejak jaman penjajahan Belanda hingga Orde Baru(orba) di negara ini sangat minim. Tak banyak dokumen sejarah seni cetak grafis yang ditemukan saat ini.

"Padahal seni grafis sebagai alat propaganda juga sebagai medium gagasan. Ini relevan di masa lalu, relevan pula di masa kini. Namun saat ini tak ada 10 persen seni grafis sejak belanda yang terdokumentasi sebagai arsip sejarah," papar kurator pameran, Febrian Adinata Hasibuan dikutip Senin (9/12/2024).

Menurut Febrian, lembaga resmi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) maupun Perpustakaan Nasional (perpusnas) pun tidak memiliki banyak arsip seni cetak grafis. Kondisi ini mencerminkan lemahnya tradisi pengarsipan kita sebagai bangsa.

Baca Juga:Jangan hanya Kaji Perilaku Pemilih di DIY saja, Kesbangpol Diminta Riset Kandidat hingga Penyelenggaraan Pemilu

Koleksi seni cetak grafis justru lebih banyak ditemukan dari koleksi pribadi. Selain itu dari institusi luar negeri seperti Belanda.

Dicontohkan Febrian, tim kuratorial berhasil menemukan arsip yang sebelumnya dianggap hilang, yakni Album poster revolusi karya Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) dari tahun 1948. Album ini sempat dinyatakan lenyap akibat Agresi Militer Belanda II.

Arsip tersebut menjadi saksi bisu perjuangan para seniman era kemerdekaan yang mencetak hingga seribu poster sehari bersama masyarakat. PTPI juga memainkan peran penting dalam pembentukan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang menjadi cikal bakal ISI Yogyakarta.

"Penemuan arsip ini sangat istimewa. Album tersebut ditemukan dalam koleksi pribadi dan direpro dengan sangat hati-hati karena kondisi kertasnya yang rapuh," jelasnya.

Karenanya Festival Seni Cetak Grafis Trilogia 2024, lanjut Febrian coba dihadirkan. Melalui ratusan arsip dan karya yang ditampilkan, festival ini mengajak semua orang untuk memahami sejarah, memperkuat tradisi pengarsipan.

Baca Juga:OPINI: Pemilu dan Pemalu

Sejumlah arsip seni cetak grafis menunjukkan betapa seni bisa jadi propaganda politik yang efektif. Sebut saja poster-poster yang dibuat pada masa kemerdekaan menjadi media untuk menyemangati perjuangan merebut bangsa ini dari tangan penjajahan Belanda dan Jepang.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini