- Pemerintah Daerah DIY menyerahkan becak listrik kepada pengemudi untuk menggantikan 50 bentor yang dimusnahkan di Yogyakarta, Rabu (3/6/2026).
- Program konversi ini bertujuan menata kawasan Malioboro menjadi zona rendah emisi yang bebas dari kendaraan bermotor bermesin.
- Dinas Perhubungan menargetkan penghapusan operasional bentor secara total di seluruh kawasan Malioboro pada akhir November 2026 mendatang.
Tak hanya bentor, kendaraan bermotor lainnya juga akan dibatasi. Sebab Malioboro akan sepenuhnya menerapkan konsep low emission zone.
Nantinya hanya kendaraan darurat, Trans Jogja, becak kayu, dan becak listrik yang diperbolehkan melintas di kawasan wisata paling ikonik di Yogyakarta tersebut. Bahkan kendaraan roda tiga bermotor atau bajaj yang sempat diwacanakan beroperasi di kawasan wisata juga tidak akan diizinkan masuk ke Malioboro.
"Setelah November, setiap hari berlaku. Kendaraan bermotor tidak boleh melintas," tandasnya.
Namun Erni mengakui tantangan terbesar saat ini adalah jumlah armada becak listrik yang masih jauh dari kebutuhan. Berdasarkan data Dinas Perhubungan DIY, terdapat sekitar 900 becak yang beroperasi di kawasan Malioboro.
Baca Juga:Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
Sementara jumlah becak listrik yang tersedia hingga saat ini baru sekitar 200 unit. Karena itu pemda terus menggandeng berbagai pihak untuk mempercepat pengadaan armada baru.
"Kita akan cari perusahaan yang bisa membantu menyediakan becak listrik," paparnya.
Sementara itu Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan perubahan menuju transportasi ramah lingkungan tidak boleh menghilangkan mata pencaharian para pengemudi becak. Apalagi becak merupakan bagian dari identitas budaya Yogyakarta yang harus tetap dipertahankan.
"Jangan sampai kita pro lingkungan tetapi tidak pro kepada manusia. Jangan sampai kita menghilangkan becak dan menghilangkan mata pencarian bapak-bapak semuanya," tandasnya.
Hasto menyebut, becak listrik menjadi jalan tengah yang memungkinkan Yogyakarta menjaga ikon transportasi tradisionalnya sekaligus mengurangi emisi kendaraan di pusat kota.
Baca Juga:Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
"Transformasi itu kini mulai berjalan kedepannya," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi