Kekerasan Seksual dan Bullying Makin Mengkhawatirkan, Belum Semua Kampus di DIY Punya Satgas

Kasus kekerasan dan perundungan di DIY jadi alarm dunia pendidikan. Belum semua kampus miliki Satgas PPKS karena terkendala SDM, sementara sekolah didorong perkuat pencegahan.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 22 Juli 2026 | 15:41 WIB
Kekerasan Seksual dan Bullying Makin Mengkhawatirkan, Belum Semua Kampus di DIY Punya Satgas
Ilustrasi pelecehan seksual. (Suara.com/Ema Rohimah)
Baca 10 detik
  • Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY Setyabudi Indarto mengakui pada 22 Juli 2026 bahwa belum semua perguruan tinggi di Yogyakarta memiliki Satgas PPKS karena keterbatasan sumber daya manusia.
  • Sekjen PB PGRI Baskara Aji menyatakan perundungan di sekolah harus diselesaikan bersama dan setiap laporan harus segera diteruskan kepada tim satuan tugas untuk ditindaklanjuti.
  • Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan pencegahan kekerasan memerlukan budaya saling peduli agar korban berani melaporkan masalahnya kepada pihak berwenang.

Sementara itu, Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menilai pencegahan kekerasan tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan sanksi. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya saling peduli agar korban berani berbicara sebelum terlambat.

"Kemarin juga sudah ada deklarasi. Saya kira ini menjadi salah satu bagian untuk mengingatkan semua pihak, baik anak-anak sekolah, bapak dan ibu guru, lingkungan keluarga maupun masyarakat agar kita saling menjaga satu sama lain," tandasnya.

Ia mengingatkan banyak kasus terjadi karena korban memilih memendam persoalannya. Karenanya mereka harus melaporkan ke satgas atau pihak lain jika menemukan indikasi kasus kekerasan seksual ataupun perundungan.

"Kalau ada masalah jangan merasa sendirian. Sebagian besar peristiwa terjadi ketika ada yang memilih diam. Kalau ada masalah harus ada keberanian untuk menyampaikan atau melaporkannya," ungkapnya.

Baca Juga:Dosen Farmasi UMY Dinonaktifkan Buntut Dugaan Pelecehan, Kampus Telusuri Korban Lain

Made menambahkan, pemda tidak ingin penanganan kekerasan hanya mengedepankan pendekatan represif. Karenanya guru Bimbingan dan Konseling (BK) perlu berperan lebih.

"Kita tidak mungkin bisa menjaga siswa hanya sampai di lingkungan sekolah. Peran BK juga sangat penting, meskipun BK tentu memiliki keterbatasan dan tidak mungkin bisa mengawasi seluruh situasi yang terjadi," ungkapnya.

Made berharap seluruh pihak tidak membiarkan satu kasus kekerasan merenggut masa depan anak.

"Jangan sampai karena suatu peristiwa, dalam satu hari mereka kehilangan cita-cita untuk masa depan. Mereka harus memiliki kepercayaan, baik kepada diri sendiri, orang tua maupun guru," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga:Ramai di Threads, Dosen Farmasi UMY Diduga Lecehkan Mahasiswi, Kampus Panggil yang Bersangkutan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak