- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta pencarian lima jurnalis di Selat Sunda dilakukan maksimal menggunakan teknologi.
- Pewarta Foto Indonesia Yogyakarta menggelar doa bersama pada Jumat untuk keselamatan jurnalis dan kru kapal yang hilang.
- Tim SAR hingga hari kelima terus menyisir pulau-pulau kecil di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk menemukan korban.
Doa juga dipanjatkan untuk tiga kru speedboat Arupadhatu 1, yakni Warta (55) selaku kapten, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Ketua PFI Yogyakarta Andreas Fitri Atmoko menyatakan doa bersama tersebut menjadi bentuk dukungan moral bagi para jurnalis, kru kapal, serta keluarga yang tengah menunggu kabar.
"Kami berharap pencarian yang dilakukan hari ini dan seterusnya membawa kabar baik, dan yang paling utama, mereka semua dapat ditemukan dalam keadaan selamat," paparnya.
Menurutnya, situasi tersebut kembali mengingatkan pekerjaan jurnalistik di lapangan memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, solidaritas sesama jurnalis menjadi penting ketika ada rekan yang menghadapi kondisi darurat.
Baca Juga:Ormas Terlibat Kekerasan, Muhammadiyah Desak Polisi Tak Tebang Pilih
"Kami juga memberikan dukungan kepada keluarga yang saat ini tentu berada dalam situasi yang sangat berat," jelasnya.
PFI Yogyakarta juga mengapresiasi Basarnas dan seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian. Pencarian hingga hari kelima masih dilakukan dengan menyisir pulau-pulau kecil di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Anggota PFI Yogyakarta, Becky Subekhi, menambahkan doa bersama tidak hanya dilakukan di Yogyakarta. PFI di daerah lain, termasuk Malang dan Surabaya juga menggelar doa untuk para jurnalis yang hilang.
Ia menilai kejadian tersebut menjadi peringatan keras bagi awak media, terutama fotografer yang melakukan peliputan di kawasan bencana.
"Ini tamparan juga bagi PFI. Sebenarnya sepenting-pentingnya kejadian, momen lebih penting nyawa. Ada wacana keamanan peliputan akan dimasukkan pada materi uji kompetensi," ungkapnya.
Baca Juga:Haedar Nashir: Tak Ada Kompromi bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus Muhammadiyah
Salah satu anggota PFI Yogyakarta lainnya, Dwi Oblo, mengaku mengenal kelima jurnalis tersebut. Ia bahkan telah mengenal Ari Basuki atau Arbas selama lebih dari 20 tahun. Dia sempat bersama Arbas meliput erupsi Gunung Merapi pada 2006.
"Foto-fotonya memang dahsyat, saya kagumi. Foto-fotonya dua tahun lalu sempat menang award, dapat penghargaan," jelasnya.
Menurut Oblo, Arbas merupakan jurnalis yang sangat memperhatikan aspek keamanan ketika melakukan peliputan bencana. Ia selalu memikirkan langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat.
Karenanya Oblo mengaku syok dan sedih ketika mendengar rombongan Arbas kehilangan kontak. Ia berharap tim SAR segera menemukan mereka, termasuk kemungkinan mereka terdampar di salah satu pulau di sekitar kawasan Anak Krakatau.
"Dia sangat peduli dan memikirkan kalau ada sesuatu lari ke mana. Sangat peduli dengan itu. Harapannya tim SAR bisa menemukan. Paling tidak mungkin terdampar karena di sekitar Krakatau ada pulau-pulau. Harapannya bisa ditemukan di salah satu pulau dan terdampar, harapan kita semua," paparnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi