- Widiyaskoro Wibowo mendirikan wadah Difakreasi Mandiri sejak tahun 2023 di Yogyakarta untuk memasarkan produk UMKM difabel secara online.
- Muryati, seorang penjahit asal Yogyakarta, mengikuti pelatihan membatik pada Rabu, 16 September 2026, untuk menambah penghasilan katering pakaiannya yang sepi.
- Dinas Sosial DIY berencana memamerkan karya batik para difabel pada peringatan Hari Disabilitas Nasional di Bandara YIA Desember 2026.
"Lumayanlah untuk bisa makan sehari-hari," ujarnya.
Semangat mencoba hal baru juga terlihat dari Muryati, 49 tahun. Selama ini, perempuan tersebut bekerja sebagai penjahit dari rumah.
Namun, pekerjaan menjahit yang selama ini menjadi andalannya mulai sepi. Perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin banyak berbelanja secara online turut berdampak pada pekerjaannya.
Muryati kemudian bertahan dengan menerima jasa permak pakaian. Mulai mengganti ritsleting, memotong, mengecilkan, hingga membesarkan pakaian.
"Kalau ganti rel atau ritsleting sekitar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu," tuturnya.
Baca Juga:Permintaan Les UTUL UGM di Jogja Nyaris Setara UTBK, Edufio Jalankan Keduanya
Namun penghasilannya tidak menentu. Itu pun tidak setiap hari ada pelanggan.
"Enggak mesti. Sekarang memang semuanya bisa sulit," ujarnya.
Karena kondisi fisiknya, Muryati juga harus memilih pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tenaga yang tidak terlalu besar dan sebisa mungkin tidak mengharuskannya sering keluar rumah.
"Mesti memilih. Harus yang enggak banyak tenaga, terus enggak banyak keluar rumah juga," katanya.
Kesempatan baru datang ketika ia mengikuti pelatihan membatik. Untuk pertama kalinya, Muryati memegang canting dan mencoba membuat motif di atas kain. Ia mengakui hasil pertamanya masih jauh dari sempurna.
Baca Juga:Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Ash-Sholihah, Kanwil Kemenag DIY Layangkan Surat Peringatan
"Masih celoleng-celoleng," ujarnya sambil menggambarkan dirinya yang masih kaku menggunakan canting.
Namun, ketidaksempurnaan itu tidak membuatnya berhenti. Ia membawa pulang alat membatik yang diperolehnya dalam pelatihan. Di rumah, alat tersebut akan digunakannya untuk terus berlatih.
Bagi Muryati, membatik bukan sekadar aktivitas baru. Ada harapan keterampilan tersebut kelak menjadi peluang usaha tambahan ketika pekerjaan menjahit sedang sepi.
"Insyaallah, tadi sudah dapat alat, jadi nanti di rumah bisa buat belajar lagi," ujarnya.
Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno mengatakan Pemda DIY mendorong terbentuknya akses pemberdayaan sekaligus ekosistem usaha bagi penyandang disabilitas di DIY. Diantaranya melalui pelatihan membantik bagi kaum difabel.
Hasil karya peserta rencananya akan dipamerkan dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Nasional di Bandara YIA pada Desember 2026 mendatang. Karya tersebut juga terbuka kemungkinan untuk dipasarkan kepada masyarakat luas.