- Polresta Yogyakarta memasang kawat duri di Titik Nol Kilometer pada dua November dua ribu dua puluh enam.
- Pemda DIY menyatakan tindakan simulasi pengamanan unjuk rasa oleh kepolisian tersebut dilakukan tanpa koordinasi terlebih dahulu.
- Pemasangan kawat duri di kawasan cagar budaya dikritik karena dapat memicu persepsi pengamanan berlebihan bagi wisatawan.
SuaraJogja.id - Dua hari terakhir media sosial (medsos) di Yogyakarta diramaikan adanya pemasangan kawat duri di kawasan Titik Nol Kilometer (Km) pada Senin (2/11/2026). Polresta Yogyakarta yang memasang kawat itu beralasan hanya untuk simulasi pengamanan obyek vital cagar budaya serta antisipsai gejolak unjukrasa lanjutan usai aksi unjukrasa yang sempat ricuh 28 Oktober 2026 lalu.
Meski akhirnya kawat duri dicopot, warganet mempertanyakan tindakan pihak kepolisian tersebut. Bahkan Pemda DIY pun menyatakan simulasi pengamanan untuk mengantisipasi kericuhan demonstrasi itu ternyata dilakukan tanpa koordinasi terlebih dahulu.
Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti di Yogyakarta, Selasa (3/11/2026) menyatakan pentingnya koordinasi antarlembaga. Apalagi lokasi pemasangan kawat berduri berada di kawasan cagar budaya sekaligus bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta.
"Ini kan inisiatif dari kepolisian ya, untuk memasang kawat berduri itu mungkin sebagai latihan atau apa ya, soalnya kami belum diberitahu untuk berkaitan dengan hal itu, mungkin perlu penekanan di sisi koordinatif," paparnya.
Baca Juga:Dua Peserta Demo di Malioboro Sempat Hilang, LBH Laporkan Sudah Pulang
Menurut Made, Pemda menghargai dan memahami tugas kepolisian untuk menjaga keamanan wilayah. Namun karena Titik Nol Km merupakan kawasan cagar budaya, maka keamanan di kawasna tersebut menjadi berbeda.
Made menilai, langkah preventif kepolisian semestinya tetap mempertimbangkan karakteristik kawasan dan respons masyarakat. Jangan sampai upaya menjaga keamanan justru memunculkan persepsi adanya pengamanan berlebihan di ruang publik.
Menurutnya, komunikasi sejak awal dapat membantu Pemda DIY dan pihak terkait memahami langkah pengamanan yang akan dilakukan. Hal itu sekaligus mengantisipasi respons masyarakat.
Terlebih Titik Nol Km terhubung dengan kawasan Malioboro yang menjadi salah satu magnet wisata Yogyakarta. Karena itu, pendekatan pengamanan perlu dilakukan secara humanis dan dapat diterima seluruh lapisan masyarakat.
"Itu kan termasuk kawasan sumbu filosofis, kawasan Malioboro, banyak pengunjung, banyak wisatawan. Jadi bagaimana kemudian ketika akan dilakukan tindakan preventif dan lain-lain, itu mungkin perlu ada koordinasi yang humanis, yang bisa diterima oleh semua," ungkapnya.
Baca Juga:Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
Sebelumnya Kasihumas Polresta Yogyakarta, Iptu Dani Hasan dalam keterangannya membenarkan adanya uji coba pemasangan kawat berduri di kawasan Titik Nol Kilometer pada Senin kemarin.
"Benar, hari ini ada uji coba pemasangan kawat guna memastikan simulasi pengamanan objek vital yang terdapat kawasan cagar budaya," jelasnya.
Menurut Dani, kawat berduri hanya dipasang sementara di sisi selatan kawasan Titik Nol Kilometer. Setelah simulasi selesai sekitar pukul 18.30 WIB, kawat berduri tersebut sudah dilepas oleh petugas kepolisian.
"Setelah uji coba selesai, kawat uji tersebut telah kembali dibereskan oleh petugas," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi