- Desty Endah Nurmalasari mengalami gangguan skizoafektif sejak 2012 akibat halusinasi suara setelah menyelesaikan kuliah di UNY.
- Pendampingan kesehatan jiwa dan Self Help Group dari Yakkum membantu Desty pulih serta kembali mengajar.
- Kini Desty aktif menyuarakan pentingnya dukungan sosial bagi penyandang disabilitas psikososial dalam berbagai seminar internasional.
Ada ruang untuk berbagi cerita, berbincang, mengikuti terapi aktivitas kelompok (TAK), hingga melakukan kegiatan bersama anggota lainnya.
Perlahan, Desty mulai berani berinteraksi kembali.
Sekitar 2017–2019, kondisinya mulai membaik meskipun masih kerap mengalami kesulitan mengendalikan emosi. Perkembangan itu berlanjut pada 2020–2021. Ia mulai dilibatkan dalam berbagai kegiatan di luar desa.
Awalnya, ia hanya mendapat tugas menjadi pembawa acara atau MC dalam kegiatan SHG. Berbicara di depan banyak orang menjadi tantangan tersendiri. Rasa gugup masih sering muncul.
Namun, kesempatan demi kesempatan membuatnya semakin terbiasa. Desti bahkan diajak mengikuti seminar di berbagai daerah hingga luar negeri. Ia tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mendapat kesempatan menjadi pembicara.
Baca Juga:Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja
Perubahan itu terasa sangat besar baginya. Seseorang yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kini mampu berdiri di hadapan banyak orang dan menyampaikan pengalaman hidupnya.
"Saya merasa benar-benar sehat sekitar 2023. Dari 2017 sampai 2023 itu saya mulai bisa menguasai diri dan emosi namun sampai saat ini tetap harus minum obat secara rutin," ujarnya.
Desty kemudian menyadari pemulihan tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan medis.
Menurutnya, dukungan sosial memiliki peran yang sama pentingnya. Bertemu banyak orang, memiliki teman untuk berbicara, serta mendapatkan kesempatan beraktivitas membuatnya kembali merasa menjadi bagian dari masyarakat.
"Ternyata yang bikin happy itu bukan cuma obat. Saya bisa kenal banyak orang lagi. Jadi pengaruh obat dan sosial itu sama penting," katanya.
Salah satu perubahan paling berarti dalam kehidupan Destiy adalah kesempatan kembali bekerja. Sebelum mengalami gangguan kesehatan mental, ia sudah memiliki pengalaman mengajar Bahasa Inggris sejak kuliah. Namun, ketika mengalami halusinasi, suara yang didengarnya justru terus mengatakan dirinya tidak perlu bekerja.
Baca Juga:Kematian Bambang hingga Ricuh di Simpang Gramedia, Pakar: Jangan Biarkan Ormas Jadi Polisi Jalanan
Akibatnya ia benar-benar berhenti mengajar.
Dalam proses pendampingan, Yakkum kemudian menanyakan keinginannya. Apa pekerjaan yang ingin dilakukan jika memiliki kesempatan untuk kembali mandiri dan dia menjawab ingin mengajar.
Keinginan sederhana itu kemudian mendapat dukungan. Ia kembali memperoleh kesempatan mengajar anak-anak, mulai jenjang SD hingga SMA.
Kembali mengajar bukan sekadar memperoleh penghasilan. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses menemukan kembali kepercayaan diri dan identitas dirinya.
Desty yang dahulu sempat kehilangan arah setelah wisuda kini bisa kembali menjalani profesi yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pengalaman tersebut juga membuatnya semakin memahami pentingnya kesempatan bagi ODDP untuk mandiri secara sosial maupun ekonomi.
"Kami tidak seharusnya hanya dipandang sebagai orang yang membutuhkan pengobatan namun juga memiliki kemampuan, keinginan, dan potensi untuk berkontribusi di tengah masyarakat," tandasnya.
Kini, Desty masih aktif dalam kegiatan SHG di desanya. Kelompok tersebut menjadi tempat bagi sekitar 13 ODDP untuk berkumpul dan saling menguatkan.