"Ini sudah turun temurun. Warisan kakek canggah saya,"ujar Nur, Rabu, ketika ditemui di rumahnya.
Nur menyebutkan, paling belakang berbentuk limasan, rumah yang di tengah juga limasan dan bagian depan berbentuk joglo. Sementara di sisi kiri ada dua rumah berbentuk kampung yang masing-masing berfungsi untuk dapur dan tempat makan keluarga. Di depan 2 rumah kampung tersebut ada joglo yang baru didirikan.
Nur menjelaskan, rumah paling belakang berbentuk limasan merupakan warisan dari Mbah canggah dirinya atau mbah buyut dari ayahnya Mujono yaitu Karyo Setiko tahun 1930. Kemudian dari Karyo Setiko kepada simbahnya atau ibunya Marto Wiyono tahun 1952.
"Oleh Mbah Marto Wiyono diwariskan ke Supardi Wiyono pada tahun 1980, sehingga sudah turun menurun sebanyak 3 generasi," tambahnya.
Bangunan tersebut lantas didirikan di tanah tersebut baru tahun 1991. Saat itu, ibunya, yang merupakan anak pertama dari keluarga neneknya tersebut, 'disendirikan' dengan dibangunkan di Padukuhan Gebang. Saat diwariskan, rumah tersebut sudah pindah 3 kali dan semuanya di kalurahan Ngloro.
Nur mengatakan, rumah paling belakang berbentuk limasan memiliki cagak atau tiyang 14 cm. Rumah limasan tersebut berukuran 18×12 meter persegi dengan tiang setinggi 3,10 meter dan sekelilingnya berdinding kayu atau sering disebut gebyok.
"Di bagian belakang ini berfungsi tempat tidur ayah saya Mujono. Di dalamnya ada Gladak atau kotak berukuran 1,5 x2,5x1,25 meter yang berfungsi sebagai tempat menyimpan gabah hasil panenan," terangnya.
Rumah limasan bagian tengah merupakan warisan dari canggahnya, yaitu So Setiko. Namun tahun berapa diturunkan ke kakeknya Kromo Sentono ia tidak memahami, dan tahun 1952 kemudian diwariskan ke Wiryo Sentoro atau bapak dari Mujono, 1980 kepada Wiryo Sentono. Karena Mujono 'disendirikan', maka limasan tersebut didirikan Padukuhan Gebang tahun 1991.
Rumah paling depan berbentuk Joglo Tumpang 5 dan merupakan warisan yang sama dengan rumah paling belakang. Ukuran soko tiangnya adalah 15 cm dengan luas 12 x 9 meter persegi dan tinggi 3,5 meter.
Baca Juga: Uniknya Kampanye para Peserta Pilkada Gunungkidul, Ada yang Datangi Hajatan
Pemilik rumah, Mujono, mengaku sebenarnya tidak begitu sulit merawat rumah tua tersebut. Untuk membersihkan dinding kayu kuno tersebut memang membutuhkan ramuan khusus. Dan sejak turun temurun, keluarga ini memiliki ramuan berupa cengkeh dicampur dengan tembakau direndam dalam air bersama gedebog (batang) pisang.
"Merendamnya tiga hari tiga malam. Biar mengendap dulu,"paparnya.
Ramuan tersebut lantas diusapkan ke dinding kayu yang sudah dipelitur tersebut. Hasilnya, selain awet dan bersih, dinding kayu yang sudah diusap rendaman tersebut menjadi semakin bersinar dan aslinya sangat tampak. Dan untuk lantai cukup disapu tiap 3 hari sekali.
Karena leluhurnya telah melaksanakan laku prihatin dengan membangun belasan Joglo untuk keturunan mereka, Mujonopun meniru leluhurnya. Ia kini juga mengumpulkan joglo-joglo lain di rumahnya. Bulan lalu, ia baru saja memindahkan dan mendirikan joglo milik besannya ke kompleks joglo miliknya.
Terpisah, Kepala Desa Ngloro Heri Yuliyanto mengatakan, di wilayah yang berada di bawah kepemimpinannya itu, beberapa waktu lalu terdapat 6 yang mendapat predikat cagar budaya. Dimana tersebar di Padukuhan Gebang, Pringsurat, Karangnongko dan beberapa lainnya. Hal itu disambut baik oleh pemerintah desa, pasalnya dengan demikian tingkat jual beli rumah Joglo dapat ditekan.
"Ini merupakan potensi yang dimiliki, sebagian besar warga sini sudah sadar untuk melestarikannya. Kami sangat mendukung tentunya, ada puluhan yang dinilai, namun baru 6 yang lolos," ucap dia.
Berita Terkait
-
Uniknya Kampanye para Peserta Pilkada Gunungkidul, Ada yang Datangi Hajatan
-
Pedagang Angkringan Jadi Korban Pelecehan Seksual, Pelaku Pelanggan Lama
-
Gegara KTP Palsu, Hubungan Asmara Terlarang Polisi Gadungan Ini Terbongkar
-
Joglo Citakan Piyaman, Melongok Saksi Bisu Berdirinya Gunungkidul
-
Ritual Unik Warga Nglindur Usir Covid-19, Gelar Rasulan dan Buang Sukerto
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
Pilihan
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
-
Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
Terkini
-
Suara.com hingga NU Online Sabet Penghargaan Bergengsi, Ini Daftar Juara AMSI Awards 2026
-
Viral Titik Nol Km Jogja Dipasang Kawat Duri, Pemda DIY Merasa Tak Dikabari Polisi
-
IAGI Soroti Tantangan Eksploitasi Kekayaan Geologi: Jangan Korbankan Lingkungan!
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Copot Kapolres Sukoharjo Tak Cukup, Penggeledahan Ponpes Disebut JPW Efek Mutasi Awur-awuran