SuaraJogja.id - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas Gunung Merapi dalam sepekan terakhir atau dalam periode tanggal 30 April hingga 6 Mei 2021. Dalam periode pengamatan tersebut tercatat sejumlah guguran awan panas dan puluhan lava masih terus terjadi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan dalam periode pengamatan seminggu terakhir terjadi sebanyak 12 kali awan panas guguran. Dari jumlah tersebut jarak luncur maksimal mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer ke arah barat daya.
"Awanpanas guguran terjadi sebanyak 12 kali dengan jarak luncur teramati sejauh 2.000 m ke arah barat daya dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 61 mm dan durasi 146 detik," kata Hanik dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/5/2021).
Hanik menuturkan dalam periode pengamatan tersebut cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sedangkan siang hingga sore hari berkabut.
Selain awan panas guguran, lava dari puncak Merapi masih terus teramati. Kali ini guguran lava tidak hanya mengarah ke barat daya melainkan ke arah tenggara juga.
"Guguran lava teramati sebanyak 74 kali dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter ke arah barat daya dan 2 kali ke arah tenggara dengan jarak luncur 600 meter," ungkapnya.
Dijelaskan Hanik, berdasarkan hasil analisis foto area puncak menunjukkan volume kubah di sektor barat daya terus berkembang. Hingga saat ini perkembangan itu sebesar 1.100.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 17.000 meter kubik per hari.
Sementara itu volume kubah lava di tengah pun juga terus berkembang. Bahkan volume kubah lava tengah lebih besar dibanding kubah lava di sektor barat daya.
"Volume kubah tengah sebesar 1.700.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 14.000 meter kubik per hari," ujarnya.
Baca Juga: Dalam 24 Jam Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas hingga 2 Km, Lava 20 Kali
Mengenai kegempaan yang masih terus terjadi di Gunung Merapi, kata Hanik, pada minggu ini intensitas kegempaan lebih tinggi dibandingkan minggu lalu.
Sedangkan deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM, disebutkan Hanik pada minggu ini menunjukkan laju pemendekan jarak sebesar 0,6 cm/hari.
"Selain itu tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Merapi," tuturnya.
Hanik menambahkan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Kali Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sementara potensi bahaya pada sektor tenggara yaitu sungai Gendol sejauh 3 km.
Sedangkan untuk kemungkinan jika terjadi lontaran material vulkanik saat terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
"Untuk yang berada di luar potensi daerah bahaya saat ini kondusif untuk beraktivitas sehari-hari," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Update Merapi, Tercatat Luncuran Lava ke Arah Tenggara dan Barat Daya
-
Sejak Dini Hari Gunung Merapi 2 Kali Keluarkan Awan Panas Guguran
-
Awan Panas Meluncur Sejauh 2 Kilometer dari Puncak Gunung Merapi Tadi Malam
-
Gunung Merapi 11 Kali Keluarkan Lava ke Barat Daya, Jarak Maksimal 1,2 Km
-
Sejak Dini Hari Gunung Merapi Keluarkan 3 Kali Awan Panas ke Barat Daya
Terpopuler
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- Kipas Angin Model AC yang Resmi dan Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasinya
- Status Gunung Api Malam Ini: Merapi, Semeru, Anak Krakatau Siaga, 3 Gunung di Maluku Waspada
- 4 Shio Beruntung 6 September 2026, Hidup akan Lebih Ringan
Pilihan
-
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 6 Kali Erupsi Strombolian Terekam
-
Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
Terkini
-
Anggaran BNPB Terus Menyusut, Pakar Sebut Indonesia Bisa Terjebak dalam Siklus Respons Bencana
-
Tak Ikut-ikutan Malang, Pemda DIY Pilih Evaluasi MBG Meski 70 Orang Keracunan
-
Erupsi Ganggu Penerbangan di Adisutjipto, Penumpang KA Daop 6 Yogyakarta Melonjak 12,5 Persen
-
Puluhan Siswa Keracunan di Turi, Orang Tua Desak Stop MBG Kalau Bikin Anak Jadi Korban
-
BMKG: Potensi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau ke Jawa Tengah dan DIY Sangat Minim