- Uji coba penuh kebijakan Malioboro sebagai zona terlarang kendaraan bermotor dimulai di Yogyakarta pada Senin, 1 Desember 2025.
- Ojol dan warga mengeluhkan kesulitan distribusi serta kemacetan parah di jalan-jalan sirip sekitar Malioboro akibat kebijakan tersebut.
- Sekda DIY menyatakan keluhan masyarakat menjadi bahan evaluasi krusial untuk penataan kawasan dan penegakan pola lalu lintas baru.
SuaraJogja.id - Peluh membasahi wajah Sekar siang itu. Bukan karena teriknya matahari Yogyakarta, melainkan karena langkah kakinya yang terpaksa dipercepat menyusuri pedestrian Malioboro.
Sebagai seorang pengemudi ojek online (ojol), ia harus berpacu dengan waktu demi sebuah pesanan makanan, namun kebijakan baru Pemkot Yogyakarta seolah menjadi tembok penghalang.
Uji coba full pedestrian di Malioboro yang dimulai Senin (1/12/2025) mengubah ikon wisata itu menjadi zona terlarang bagi kendaraan bermotor.
Bagi Sekar dan rekan-rekannya, kebijakan ini berarti perjuangan ekstra. Pesanan yang masuk dari salah satu tenant di dalam Malioboro memaksanya memarkirkan motor jauh di luar kawasan dan berjalan kaki.
"Karena dilarang masuk [ke malioboro], akhirnya saya jalan kaki lumayan jauh untuk ambil pesanan, takutnya pelanggan komplain karena lama," ujar Sekar dengan napas sedikit tersengal, Senin Siang.
Kekhawatirannya tidak berhenti di situ. Saat meninggalkan motornya di salah satu jalan sirip Malioboro, ia dihadapkan pada masalah baru: menjamurnya parkir ilegal.
Rasa was-was akan keamanan motor yang menjadi satu-satunya alat mencari nafkah terus menghantuinya selama ia mengambil pesanan.
"Takutnya motor saya hilang, mau parkir kok malah banyak parkir tidak jelas," ungkapnya.
Keresahan tak hanya dirasakan oleh para pejuang rupiah seperti Sekar. Intan, seorang warga Sleman, juga merasakan dampak langsung dari kebijakan yang berlangsung selama dua hari ini.
Baca Juga: Kerajinan Kuningan dari Ngawen Sleman: Suara Klinting yang Jadi Rujukan Pelaku Seni
Perjalanannya di awal pekan yang sibuk berubah menjadi mimpi buruk saat terjebak kemacetan parah di sekitar Malioboro.
"Saya harus tiga kali kena lampu merah gondomanan karena macet sekali di luar malioboro untuk putar balik," tandasnya.
Intan mempertanyakan pemilihan waktu uji coba yang dilakukan pada hari kerja. Menurutnya, hal ini memperparah kepadatan lalu lintas yang sudah menjadi masalah klasik di pusat kota.
"Kenapa kok ya digelar senin yang notabene hari sibuk, mestinya kalau ada acara seni kan bisa sabtu minggu yang hari libur," paparnya.
Menanggapi berbagai keluhan, Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengakui tantangan terbesar justru berada di jalan-jalan sirip di sekitar Malioboro yang menjadi biang kemacetan dan pelanggaran lalu lintas.
"Dua hari uji coba ini sebagai momen krusial untuk mengevaluasi penataan kawasan dan memastikan kebijakan pedestrianisasi benar-benar menciptakan kenyamanan bagi warga dan wisatawan," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
Terkini
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat