- Pemerintah berencana menerapkan WFH satu hari seminggu bagi ASN dan swasta pasca Lebaran untuk menekan pembengkakan subsidi BBM global.
- Pengamat meragukan efektivitas WFH karena ketiadaan variabel paksa seperti pandemi, berpotensi disalahgunakan pekerja untuk mobilitas lain.
- Kebijakan WFH berisiko menurunkan pendapatan UMKM dan transportasi, disarankan fokus pembatasan BBM subsidi untuk kendaraan tertentu.
SuaraJogja.id - Pemerintah berencana menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta setelah periode Lebaran.
Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menekan pembengkakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat melonjaknya harga minyak dunia yang kini menembus di atas US$ 100 per barel.
Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi memberikan catatan kritis atas rencana tersebut. Menurutnya keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada kedisiplinan pelaku kerja.
Ia membandingkan dengan saat masa pandemi Covid-19 yang lalu. Berbeda kala itu, masyarakat takut keluar rumah mengingat risiko kesehatan.
Namun saat ini tidak ada tekanan serupa yang menjamin orang benar-benar tinggal di rumah saat WFH diterapkan.
"Masalahnya, tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk memberlakukan WFH satu hari seminggu secara konsekuen karena menyangkut perubahan perilaku kerja," kata Fahmy saat dikonfirmasi, Minggu (22/3/2026).
Fahmy meragukan kedisiplinan para pekerja dalam menjalankan kebijakan tersebut. Ia menilai ada risiko besar di mana waktu WFH justru disalahgunakan untuk mobilitas lain yang tetap mengonsumsi bahan bakar.
"Barangkali ASN dan pekerja swasta tidak kerja di rumah pada hari Jumat, tetapi Work From Everywhere (WFE) di tempat wisata sekalian menikmati long weekend. Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan," tuturnya.
Tanpa adanya variabel paksa seperti ancaman penularan virus pada saat pandemi Covid-19 lalu, kata Fahmy, kebijakan WFH berisiko menjadi bumerang.
Baca Juga: Pakar UGM: Prioritaskan Kebutuhan Dasar dan Dukungan Psikososial Penyintas Banjir Sumatera
"Saat pandemi Covid-19, WFH cukup berhasil menghemat BBM karena ada variabel paksa agar tidak tertular Covid-19. Sedangkan variabel paksa tidak ada pada WFH satu hari," ujarnya.
Selain masalah efektivitas, Fahmy turut menyoroti dampak negatif bagi sektor ekonomi mikro yang selama ini bergantung pada mobilitas pekerja.
Penurunan kehadiran fisik pegawai di kantor dipastikan akan memangkas pendapatan harian para pelaku UMKM dan penyedia jasa transportasi.
"WFH satu hari berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojol, warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN dan pekerja swasta, dan usaha lainnya," ungkapnya.
Selain itu, sektor manufaktur pun diprediksi akan mengalami penurunan produktivitas. Jika kewajiban WFH dipaksakan kepada tenaga kerja di lini produksi.
Fahmy menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam mengeksekusi kebijakan ini. Perlu dipertimbangkan secara matang dan teliti cost dan benefit dari kebijakan tersebut.
Berita Terkait
-
Gitar dan Pikiran Kritis: Mengenang John Tobing, Sahabat Karib yang Menjadi 'Suara' Demonstran
-
Kecam Teror Terhadap Ketua BEM UGM, KIKA: Serangan Nyata pada Kebebasan Akademik
-
Diteror Isu LGBT hingga Ancaman Penculikan, Ketua BEM UGM Buka-bukaan: Ibu Saya Sampai Ketakutan!
-
Driver Ojol di Sleman Dianiaya Orang Tak Dikenal, Polisi Lakukan Penyelidikan
-
Lulusan Hukum UGM Ini Banting Setir Jadi Ojol Saat Kuliah, Kini Jadi Peneliti Hukum Nasional
Terpopuler
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- 7 HP Paling Murah yang Bisa Kamu Beli saat Idulfitri 2026
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
BRI Sediakan Kemudahan dalam Menerima dan Mengelola Kiriman Dana untuk Keluarga PMI
-
Ekonom UGM Wanti-wanti: Jangan Sampai WFH Demi Hemat BBM 'Bunuh' Warung dan Ojol
-
Waspada Campak Mengintai di Musim Liburan: Kenali Gejala, Komplikasi, dan Pentingnya Vaksinasi!
-
Ingin Berwisata ke Lereng Merapi saat Libur Lebaran, Simak Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Sepekan
-
Ribuan Warga Ngalap Berkah Garebeg Syawal, Tradisi Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi