- BPPTKG melaporkan Gunung Merapi berstatus Level III Siaga dengan puluhan gempa guguran lava pada Selasa, 7 Juli 2026.
- Gubernur DIY melarang wisatawan mendaki ke puncak Merapi karena risiko bahaya yang belum dipahami oleh pendatang luar daerah.
- Potensi bahaya mencakup guguran lava dan awan panas yang mengarah ke sejumlah sungai di sekitar lereng Gunung Merapi.
SuaraJogja.id - Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan tingkat kegempaan yang cukup tinggi dengan puluhan guguran lava dalam enam jam terakhir. Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan wisatawan, terutama yang memanfaatkan musim liburan, agar tidak nekat mendaki hingga puncak Merapi.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan Selasa (7/7/2026) pukul 00.00–06.00 WIB yang dirilis Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gunung Merapi masih berstatus Level III (Siaga).
Selama periode pengamatan, petugas mencatat 28 kali gempa guguran dan 18 kali gempa hybrid atau fase banyak. Selain itu, teramati 17 kali guguran lava pijar ke sektor barat daya.
Rinciannya, empat kali guguran lava mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter, sedangkan 13 kali guguran lainnya mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dengan jarak luncur hingga 2.000 meter.
Secara visual, puncak Merapi tampak jelas dengan asap kawah putih berintensitas tipis setinggi sekitar 15 meter di atas puncak.
Menyikapi aktivitas tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta wisatawan untuk tidak memaksakan diri mendaki ke kawasan puncak Merapi selama status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.
"Harapan saya bagi turis ya, bagi pendatang dalam arti dia memang mau berwisata, nah itu saya mohon memang jangan naik ke atas (puncak Merapi)," kata Sultan.
Menurut Sultan, masyarakat yang tinggal di lereng Merapi umumnya telah memahami karakter aktivitas gunung api tersebut dan mengetahui batas aman ketika terjadi guguran lava maupun awan panas. Sebaliknya, wisatawan dari luar daerah berpotensi tidak memahami risiko yang ada.
"Kalau masyarakat sekitarnya kan sudah paham, tapi pendatang yang belum dan sekadar mau bervakansi, berlibur kan belum tentu tahu kalau ada aktivitas Merapi. Hati-hati, sementara jangan naik dulu," ujarnya.
Baca Juga: Bayi Sengaja Ditinggal di Toilet Kereta Eksekutif KA Sancaka Jurusan Jogja - Surabaya
Ia menegaskan, informasi mengenai perkembangan aktivitas Merapi sepenuhnya menjadi kewenangan BPPTKG yang terus melakukan pemantauan selama 24 jam.
"Nah, saya tidak tahu persis ya, yang lebih tahu itu BPPTKG. Dan memang sebetulnya kalau masyarakat sekitar Merapi itu paham," katanya.
BPPTKG mengingatkan potensi bahaya Merapi saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas di kawasan potensi bahaya, mewaspadai ancaman lahar saat hujan turun di sekitar puncak, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
BPPTKG juga menyebut suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung sehingga masih berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Usai Dilantik, Bupati Sleman Minta 5 Lurah PAW Diminta Fokus pada Program dan Pelayanan Publik
-
Resmi Pimpin Candibinangun, Atik Sunaryati Komitmen Salurkan Gaji dan Hak Pelungguh untuk Warga
-
Cuaca Jogja Dihantam Panas Berkepanjangan, ISPA Meledak 13.677 Kasus, Naik 1.059 dalam Sepekan
-
Tren "Pernikahan Hemat" Meningkat, Merapi Merbabu Hadirkan Paket Wedding Mulai Rp45 Juta
-
MK Tolak Diskualifikasi, Gibran Harus Gentleman Buka Bukti Ijazah