Diantaranya mengatur tata cara bagaimana melakukan peribadatan, menerima tamu dan berkumpul-kumpul. Menurutnya, penting untuk membangun pranata sosial baru untuk menyesuaikan dengan kondisi yang saat ini. Ia menilai, hal tersebut lantas yang menyelamatkan mereka untuk tetap bisa hidup berdampingan tanpa adanya stigma atau resistensi dari masyarakat. Baik kepada warga yang terpapar covid-19, maupun pada prosesi pemakaman jenazah pasien covid-19.

Selain itu, Wahyudi juga melakukan mitigasi dari sektor ekonomi, sejak akhir Maret hingga awal April pihaknya sudah mendistribusikan lebih dari 2000 paket untuk masyarakat. Dimana tidak semua paket sembako itu berasal dari dana pemerintah. Ada juga yang berasal dari masyarakat melalui mode dukung. Dari mode tersebut juga, Wahyudi bisa memetakan berapa jumlah relawan aktif, dan jumlah masyarakat yang membutuhkan dukungan. Saat ini, ia sudah menghentikan pembagian sembako dari pemerintah desa, lantaran sudah banyak skema bantuan yang diberikan baik dari pemeritah daerah maupun pusat.
Setelah melalui enam bulan terkungkung pandemi, secara klinis Pemerintah Desa Panggungharjo fokus tiga hal. Yakni, merawat yang sakit, membantu keluarga pasien dan melindungi yang rentan. Ketika ada yang sakit, sebisa mungkin Wahyudi memastikan warganya itu langsung mendapatkan perawatan. Termasuk untuk kasus pasien positif covid-19 nomor 30 di desanya, pemerintah desa mengantar sendiri pasien ke tempat karantina. Ia melakukan hal itu dengan segala resiko yang mungkin dialami.
Pondok karantina dan pasardesa.id
Baca Juga:Respon Isu Tsunami 20 Meter, BPBD Bantul Gelar Simulasi Penanganan Bencana
Selanjutnya, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Panggung Lestari pemerintah desa juga menyediakan tempat karantina sementara berupa homestay yang bisa disewa oleh masyarakat. Wahyudi menjelaskan jika sebagian warganya merupakan pendatang atau perantau. Sehingga ketika terjadi lockdown di beberapa wilayah, beberapa warganya yang merantau memilih pulang ke wilayahnya. Untuk mencegah terjadinya penolakan dari warga ketika ada pendatang, pihaknya menyewakan homestay murah untuk dijadikan tempat karantina sementara.
“Kita tidak mungkin memaksakan masyarakat untuk menerima,” imbuhnya.
Wahyudi mengakui bahwa saat ini masyarakat berada di situasi yang tidak mudah, begitu juga dengan pemerintah desa dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk mendistribusikan bantuan melalui Dana Desa. Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (APDESI) cabang Bantul sendiri sempat melakukan aksi protes lantaran merasa tidak mampu untuk melanjutkan distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa tahap 4, 5, dan 6. Namun, Wahyudi menilai jika hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah desa.
Ia bisa memahami ketika terjadi penolakan, karena desa sendiri kerap dijadikan tumpuan. Menurutnya, akan berbeda jika data masyarakat yang menerima bantuan sesuai dengan yang seharusnya.
Panggungharjo sendiri menjadi satu dari lima desa di Bantul yang mendistribusikan bantuan secara non tunai. Wahyudi menyampaikan, jika hal itu dilakukan untuk mengatur pemanfaatan bantuan. Dari sekian banyak warga miskin yang terdaftar dalam data, hanya sebagian saja yang lantas menerima bantuan.
Baca Juga:Kaget, Pengendara Sepeda Motor Tabrak Kakek Naik Sepeda di Bantul
Agar penerima manfaat dari bantuan tersebut lebih luas lagi, Wahyudi lantas memaksa masyarakat agar dana BLT hanya bisa dibelanjakan di warung-warung desa. Sehingga sebisa mungkin uang tersebut mengalir selama mungkin di desa.