Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Lahir dari Pembungkaman, Pendekar Pena Balairung Menjelma Jadi Petarung

Reza Gunadha | Hadi Mulyono Sabtu, 17 Oktober 2020 | 21:32 WIB

Lahir dari Pembungkaman, Pendekar Pena Balairung Menjelma Jadi Petarung
Awak BPPM Balirung saat liputan turun ke lapangan. (Arsip BPPM Balairung)

Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM menjadi ruang bagi insan intelektual untuk menuangkan gagasannya di bidang kejurnalistikan.

“Nanti bank isu itu akan dijadikan tulisan atau tidak, tergantung rapat dengan pertimbangan signifikansi, urgensi dan lain sebagainya,” ujar Faza yang sibuk dengan vapor kesayangannya.

Sejumlah arsip fisik goresan pena BPPM Balirung yang diperlihatkan kepada Suara.com masih mereka simpan dengan baik.

Seperti sebuah karya pada tahun 2018, saat Pemimpin Umum berada di Pundak M. Unies Ananda Raja, Balairung menerbitkan jurnal multidisipliner vol.1 no.2 bertajuk “HEWAN DAN MANUSIA.”

Implementasi wacana Balairung tersebut menitikberatkan pada hubungan hewan dan manusia, bagaimana hubungan keduanya, serta untuk menyingkap misteri makna yang belum terpecahkan di antara keduanya.

Kemudian pada tahun 2019 di bawah kepemimpinan Citra Maudy Mahanani, majalah Balairung edisi ke 55 mengudara.

Konflik agraria di daerah Yogyakarta menjadi pelecut lahirnya tema “Melawan Perampasan, Merebut Hak Atas Tanah.”

Majalah setebal 54 halaman itu membelejeti kemelut persoalan pertanahan di tanah istimewa ini, yang kian hari sawah dan ladangnya kian menyusut.

Sedangkan pada tahun 2020 ini, di bawah nahkoda Fahmi Pelu, majalah Balairung dialihkan menjadi bunga rampai menyikapi pandemi Covid-19.

Pasalnya, pengerjaan mendesak yang dilakukan secara online dirasa menyita proses penyusunan majalah sebagaimana seharusnya.

Bunga rampai yang ditujukan untuk mahasiswa baru tersebut mengangkat tema persoalan sistem manajemen air.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait