alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kasihan Berubah Jadi Zona Merah, Klaster Keluarga Diduga Jadi Penyebabnya

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Muhammad Ilham Baktora Rabu, 03 Maret 2021 | 17:50 WIB

Kasihan Berubah Jadi Zona Merah, Klaster Keluarga Diduga Jadi Penyebabnya
Tangkapan layar peta persebaran kasus Covid-19 di Kabupaten Bantul. - [corona.bantulkab.go.id]

Slamet mengatakan, adanya orang yang datang dari luar kota Yogyakarta atau sebaliknya berpotensi menjadi pembawa virus, sehingga salah satu keluarga dinyatakan positif.

SuaraJogja.id - Pembatasan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Kabupaten Bantul belum sepenuhnya menurunkan jumlah kasus positif Covid-19. Hingga Selasa (2/3/2021) masih ada satu kapanewon yang masuk dalam zona merah, sementara 16 kapanewon lainnya zona oranye.

Berdasarkan data dari laman corona.bantulkab.go.id, Kapanewon Kasihan satu-satunya kecamatan yang saat ini masuk sebagai zona risiko kategori merah. Indikator penyebarannya mencapai angka 1,8.

Menanggapi status zona tersebut, Panewu Kasihan Slamet Santoso tak menampik bahwa masih ada penyebaran yang cukup masif di lingkungan keluarga.

"Banyak indikatornya yang menyebabkan satgas Covid-19 Kabupaten mengkategorikannya merah. Salah satunya ada transmisi keluarga," terang Slamet, dihubungi wartawan, Rabu (3/3/2021).

Baca Juga: Horee! Jakarta Terbebas dari Zona Merah COVID-19

Menurutnya, adanya orang yang datang dari luar kota Yogyakarta atau sebaliknya berpotensi menjadi pembawa virus, sehingga salah satu keluarga dinyatakan positif.

"Satu keluarga kena, lalu anggota keluarga lain kena, seperti itu. Jadi tidak ada klaster yang massal. Apakah itu klaster kantor, klaster pasar, klaster mantenan," ungkap dia.

Slamet menegaskan, jika penyelenggaran pernikahan atau pengajian di wilayah Kasihan sudah tak diizinkan. Sehingga prediksinya berasal dari transmisi keluarga.

"Menurut saya dari (transimi keluarga), karena kami tidak bisa memantau mereka pergi atau justru datang dari mana, atau ada keluarga yang datang dari luar kota ke Kasihan. Apa karena tugas, kami sulit mendeteksi," jelas dia.

Slamet tak menampik jika aturan 14 hari karantina bagi pelaku perjalanan luar kota ke DIY tak lagi di praktekkan. Bahkan tidak ada yang bisa memastikan bagi mereka untuk isolasi mandiri, begitupun pemerintah Kapanewon.

Baca Juga: Netizen Sambut Gembira Jakarta Tak Lagi Zona Merah Covid-19: Mau Mudik!

"Sebelumnya memang harus karantina 14 hari. Tapi prakteknya tidak bisa dan tak semudah itu. Misal ada orang bepergian dari luar DIY, kembali ya harus karantina. Nah itu siapa yang mau menjamin mengawasi," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait