Cuaca Ekstrem, Sleman Alami Hujan Es hingga Talut Jebol

Menurut Prakirawan Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Indah Retno Wulan, hujan es tidak akan terjadi dalam waktu yang lama, atau hanya bertahan dalam hitungan menit.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Rabu, 03 Maret 2021 | 19:23 WIB
Cuaca Ekstrem, Sleman Alami Hujan Es hingga Talut Jebol
Butiran es mengguyur sejumlah titik di Kota Jogja, Rabu (3/3/2021). - (SuaraJogja.id/HO-dok warga Danurejan)

"Intensitas hujan yang cukup deras membuat suara air yang jatuh ke atap rumah masih seperti hujan es. Paling lama durasinya 2 menit," terangnya.

Hujan es tersebut bersifat lokal atau hanya terjadi pada radius dua kilometer, lanjut Indah. Hujan es disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) lebih dari 10 kilometer dan berpotensi terjadi dimana saja.

"Namun, potensinya lebih tinggi bisa terjadi di wilayah pegunungan. Karena parameter cuaca yang sangat mendukung pertumbuhan awan," imbuhnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap memperhatikan saluran air agar tidak terjadi genangan.

Baca Juga:Jogja Hujan Es Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak

Sementara untuk mengantisipasi angin kencang, masyarakat diimbau untuk berteduh di bangunan yang kokoh dan menghindari baliho, pohon serta tiang listrik, tidak menghidupkan alat elektronik saat terjadi petir.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menuturkan, hujan es bermula dari saat udara hangat, lembap, dan labil terjadi di permukaan bumi.

Maka, pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas atau atmosfer dan mengalami pendinginan.

Setelah terjadi kondensasi, akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb).

Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga mencapai freezing level. Freezing level tersebutlah yang membentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.

Baca Juga:Hujan Es Guyur Wilayah Jogja, Berikut Penjelasan BMKG

"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es," ungkapnya.

Reni menambahkan, es yang turun akan bergesekan dengan udara. Sehingga mencair dan saat sampai di permukaan tanah, ukuran es akan lebih kecil. Hujan es, saat ini masih berpotensi tinggi terjadi pada musim hujan dan pancaroba.

Kontributor : Uli Febriarni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak