SuaraJogja.id - Laju kendaraan mobilnya melambat ketika melintas di Jalan Turi, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Usai memarkirkan kendaraan roda empatnya, pria muda beserta sanak keluarganya mendekat ke bahu jalan dan mendekati pedagang Salak Pondoh yang sudah berjualan sejak siang.
Sambil memilih buah yang masih segar, pria tersebut tak lupa menanyakan harga per kilogram salak asli Kabupaten Sleman ini. Dirinya sempat terkejut ketika pedagang memberikan harga Rp3 ribu per kilogramnya.
Meski terkejut, pria bernama Mohammad Sulkhi Mubarok ini tetap membeli. Saat kembali ke mobil, sekeluarga sempat membahas harga salak yang sangat murah itu per kilogram. Namun hal itu diakui oleh saudaranya memang saat panen harga salak sangat murah. Bahkan petani salak bisa menjual sangat murah hanya Rp1 ribu per kilo.
![Sejumlah hasil olahan pie salak yang diciptakan pria di Jogja, Mohammad Sulkhi Mubarok di kediamannya, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (2/10/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/original/2021/10/03/14689-pie-salak.jpg)
“Itu sekitar pergantian tahun 2017 ke 2018 ketika saya masih di Semarang. Saat saya libur, kami memang ingin ke Jogja. Nah ketika melintas di Jalan Turi memang banyak pedagang salak itu. Saya juga miris kepada petani Salak Pondoh jika salak yang mereka budidayakan dihargai sekecil itu,” ujar Mubarok ditemui Suarajogja.id di kediamannya, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (2/10/2021).
Baca Juga:Senin Besok, ANBK Jadi Awal Pembelajaran Tatap Muka SMP di Sleman
Melihat kondisi petani salak yang tiap panen hanya mendapat sedikit laba, pria 35 tahun ini berinisiatif untuk memberdayakan petani. Dimana Salak Pondoh yang merupakan buah khas Sleman bisa bernilai lebih tinggi dengan inovasi pengolahan buah salak menjadi pie.
Sebelum memulai rencananya, Mubarok juga kerap berdiskusi dengan para petani salak di Sleman. Dari cerita yang ia dapat, memang sebelumnya Salak Pondoh bernilai tinggi dibanding beras. Namun beralihnya zaman, harga salak turun drastis sampai Rp1 ribu. Bahkan dari tengkulak saja, harganya sekitar Rp2 ribu.
“Saya juga mendapat cerita itu dari petani langsung, eman-eman (sayang) juga jika buah khas Jogja ini malah petaninya tidak berdaya,” ujar dia mengingat saat pertama kali bertemu para petani di wilayah Turi, Sleman.
Bahkan, kata Mubarok, anak-anak petani dan sejumlah petani lainnya nampak pesimistis dengan masa depan buah Salak khas Sleman ini. Salah satu cerita yang ia dengar, ketika seorang petani memberikan lahan untuk ditanami tumbuhan, anak-anak petani ini memilih menanam buah lain yang lebih menguntungkan.
“Saya bilang, jangan diganti buahnya, tetap saja ditanami salak nanti kita bersama-sama membangun nilai dari olahan salak itu. Jika nanti memang benar-benar tidak menanam salak, otomatis Sleman sudah tidak punya buah khasnya kan, sayang sebenarnya,” terang dia.
Baca Juga:Bupati Sleman Minta Tambahan Vaksin Untuk Mahasiswa Luar Daerah
Kisahnya pun berlanjut. Perlu waktu cukup lama untuk merealisasikan visinya menjadikan Salak Pondoh bernilai lebih tinggi. Setahun kemudian pada 2019 Mubarok berkunjung ke Malang. Dia melihat olahan makanan strudel di Kota Malang dengan bahan utamanya adalah apel hijau.