SuaraJogja.id - Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta perlu menemukan formula untuk mendapat QR Barcode sebagai pemindai aplikasi pedulilindungi di kawasan Malioboro. Hal itu menyusul Malioboro bukan obyek wisata pada umumnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko menjelaskan bahwa Malioboro lebih tepat disebut kawasan wisata. Dimana satu destinasi dengan destinasi lainnya terhubung sehingga, kondisi ini tak bisa disamakan.
"Kalau tempat wisata itu kan biasanya ada pembayaran tiket, tempatnya tertutup, atau one gate system. Nah melihat Malioboro, sebenarnya bukan objek wisata, tapi kawasan wisata. Itu kesulitannya," ungkap Wahyu dihubungi wartawan, Minggu (10/10/2021).
Pemkot juga tidak bisa menutup kawasan wisata tersebut mengingat banyak unsur, salah satunya yaitu perekonomian di dalamnya. Selain itu beberapa pedagang menjual seperti kebutuhan pokok, atau obat-obatan yang sifatnya esensial.
Baca Juga:Alokasikan Bantuan untuk Disabilitas, Pemkot Yogyakarta Sasar 80 Orang Penerima Tahun Ini
"Kalau ditutup (malioboro), tentu tidak bisa. Tapi, kami disiplin jika menutup tempat-tempat wisata, kecuali Gembira Loka, ya, karena itu masuk destinasi wisata yang diujicobakan sampai sekarang," katanya.
Ia melanjutkan, Dinas Pariwisata harus memutar otak agar Malioboro bisa mendapatkan sertifikat CHSE, yang menjadi syarat memperoleh QR Barcode pedulilindungi. Seperti yang disampaikannya, karena Malioboro terdiri dari beberapa destinasi wisata, maka prosesnya jelas tak mudah.
"Kendala lainnya, karena kita harus mendapatkan sertifikat CHSE. Kalau di Malioboro kan tidak bisa hanya Malioboro saja. Tapi, ya harus toko ini, toko itu," cetus Wahyu.
Akan tetapi, lanjut wahyu sesuai arahan Wakil Wali Kota, Heroe Poerwadi, pihaknya harus bisa menemukan mekanisme agar wisatawan dan masyarakat yang beraktivitas di Malioboro bisa tetap nyaman dan aman, meskipun tanpa pedulilindungi.
"Pak Wawali sudah meminta ya, bagaimana caranya kita mengoptimalkan Malioboro untuk memberi kenyamanan yang lebih maksimal bagi wisatawan," ungkap Wahyu.
Baca Juga:Tiba di Yogyakarta, Risto Vidakovic Langsung Pantau Skuad Borneo FC, Manajer Tim Akui Ini
Hingga kini pihaknya masih mempersiapkan sejumlah strategi, sembari menunggu QR Barcode dikirim untuk wisata Malioboro.
"Karena Malioboro ini benar-benar jadi magnet. Wisatawan yang datang ke Jogja, ujung-ujungnya pasti ke Malioboro. Maka dari itu, kita persiapkan terus, termasuk mekanisme masuk dan keluar, supaya memenuhi prokes," tambah Wahyu.
Sementara, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menerangkan sejauh ini pihaknya sudah menyiapkan satu aplikasi kepada pengunjung yang masuk ke Malioboro. Aplikasi itu sebagai catatan petugas dan juga pengingat wisatawan meninggalkan lokasi jika melebihi batas 2 jam.
"Bagaimanapun tetap kita upayakan, agar masyarakat, maupun wisatawan yang berkunjung ke Malioboro itu bisa merasa aman dan nyaman selama di sana," terang Heroe.