Di-bully Gara-Gara Wingko Berjamur, Pedagang Teras Malioboro Klarifikasi

PKL oleh-oleh di lantai 3 berharap Pemda DIY bisa memindah mereka ke lantai bawah.

Eleonora PEW
Senin, 21 Maret 2022 | 17:32 WIB
Di-bully Gara-Gara Wingko Berjamur, Pedagang Teras Malioboro Klarifikasi
Wisatawan protes beli wingko berjamur dari Teras Malioboro - (Instagram/@infocegatan_jogja)

SuaraJogja.id - Pedagang Teras Malioboro 1 yang disebut menjual wingko basi kepada wisatawan akhirnya buka suara. Pedagang merasa sangat dirugikan setelah video wisatawan Malioboro tersebut viral di media sosial (medsos).

Tak hanya lapaknya di lantai 3 yang makin sepi pembeli, akibat video yang viral tersebut, dia sampai saat ini di-bully banyak orang.

"Kasihan penjualnya kan anggota kami, sekarang ini jadi di-bully banyak orang, dan menyalahkannya tanpa tanya alasannya," ujar Pengurus Paguyuban Pedagang Pelataran Pasar Beringharjo Miftahul Jannah, Senin (21/3/2022).

Menurut Jannah, selama ini tidak pernah ada keluhan dari wisatawan yang membeli wingko milik pedagang di Malioboro. Namun setelah pindah dari selasar ke lantai 3 Teras Malioboro 1, baru kali ini pedagang mendapatkan masalah.

Baca Juga:Susi Komplain Ditegur Erick Thohir Merokok di Mandalika, Wingko Berjamur di Teras Malioboro

Kondisi cuaca yang tidak menentu dimungkinkan membuat sirkulasi udara di lantai 3 Teras Malioboro jadi lembap dan berperngaruh pada kualitas dagangan penjual makanan, apalagi produsen wingko tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa pada makanan yang dijualnya.

"Selama ini kan setiap hari wingko yang dijual stoknya selalu habis dari produsen, tapi beberapa hari ini sepi pembeli, jadi stok tiga hari masih dan kemudian dijual ke wisatawan. Biasanya tidak ada masalah karena wingko bisa bertahan sampai lima sampai tujuh hari, tapi ternyata sudah basi. Produsennya juga tidak memberitahu SOP-nya bagaimana, jadi ya karena kondisi disana yang lembap akhirnya jadi jamuran," jelasnya.

Jannah menambahkan, saat kejadian, wisatawan membeli sembilan wingko dari satu pedagang. Namun karena pedagang hanya menjual stok yang terbatas akibat sepi pembeli, maka penjual membeli dari pedagang di kiri dan kanannya.

Penjual tidak bisa mengecek wingko karena makanan tersebut tertutup rapat. Bungkus wingko tidak hanya menggunakan kertas roti, tetapi juga dibungkus lagi dengan kertas biasa dengan segel.

"Jadi kan tidak mungkin penjual membuka salah satu wingko untuk memastikan masih bagus atau jamuran karena di tiap bungkus ada segelnya, tapi ternyata saat dijual sudah jamuran meskipun baru tiga hari," ungkapnya.

Baca Juga:Wisatawan Protes Beli Wingko Berjamur di Teras Malioboro, Pemda DIY Beri Sanksi Tegas jika Terulang

Pihak paguyuban, lanjut Jannah, sebenarnya sudah mengontak pembeli melalui medsos. Penjual mau mengganti sembilan wingko seharga Rp20 ribu per bungkus yang basi, tetapi ongkos kirim ditanggung pembeli.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak