- Mahasiswa UGM menciptakan inovasi untuk mengurai sampah
- Sampah organik nanti akan menjadi pupuk yang memiliki nilai lebih
- Cacing digunakan sebagai media untuk menciptakan pupuk berkualitas
"Kami menggunakan cacing yang umurnya remaja karena itu merupakan umur cacing yang cenderung sangat konsumtif," ucapnya.
Dengan karakter itu, cacing dapat mempercepat proses penguraian sampah organik dan menghasilkan dua produk turunan, yakni pupuk organik cair dan campuran kotoran cacing tanah, dikenal sebagai kascing atau vermikompos.
"Pelanggan bukan hanya mendapatkan manfaat untuk mendekompos sampah rumah tangga, tetapi mereka juga mendapatkan produk lanjutan yang dapat bermanfaat bagi pengolahan tanaman," ungkapnya.
Ia menambahkan, satu paket Wormibox berisi 250 gram cacing dan 300 gram media yang diformulasikan dari tanah dan ampas sagu dengan perbandingan satu banding satu.
Formulasi ini membuat cacing mudah beradaptasi di lingkungan barunya.
Dari sisi bisnis, Vidhyazputri Belva Aqila dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis mengungkap bahwa satu unit Wormibox dijual seharga Rp699.999.
"Di dalam satu box sudah terdapat alat Wormibox itu sendiri, cacing, serta bedding-nya," kata Belva.
Produk ini menyasar dua segmen pasar yakni business to business (B2B) dan business to consumer (B2C).
"Untuk B2B kami menjual kepada peternak cacing, sementara untuk B2C kami sudah menjual kepada ibu rumah tangga dan komunitas peduli lingkungan," ujarnya.
Baca Juga:Revisi KUHAP: Dosen UGM Ungkap Potensi Konflik Akibat Pembatasan Akses Advokat
Sementara itu, Maureen Arsa Sanda Cantika dari Sekolah Vokasi menjelaskan, timnya juga memastikan aspek legalitas produk agar bisa makin berkembang secara berkelanjutan.
"Kami sedang mengajukan HKI [Hak Kekayaan Intelektual] jenis desain industri untuk melindungi bentuk dan konfigurasi produk Wormibox," kata Maureen.
Selain memperkuat perlindungan hukum, tim juga bersiap memperluas produksi dan distribusi agar Wormibox bisa menjangkau masyarakat lebih luas.
Anggota tim lainnya, Azkal Anas Ilmawan dari Fakultas Teknik, menambahkan bahwa integrasi IoT masih terus dikembangkan.
"Produk kami itu juga ada integrasi, yakni integrasi produk kami dengan IoT atau dengan Internet of Things. Nah, tapi untuk sekarang ini, untuk IoT-nya itu masih kami dalam bertahap pengembangan dan untuk next customer kita, dia akan mendapatkan benefit itu," ucap Anas.
"Mungkin sekarang ini belum bisa kami tampilkan secara yang jelas, tapi intinya output yang ada di alat kami nanti akan langsung bisa dipantau melalui hp atau website," imbuhnya.