Ironi Surplus Telur, UGM Peringatkan Risiko Investasi Asing Ancam Peternak Lokal

Produksi telur Indonesia surplus, namun wacana investasi asing justru mengancam peternak rakyat. Ahli sarankan penguatan peternak lokal daripada membuka keran modal asing.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 30 April 2026 | 14:32 WIB
Ironi Surplus Telur, UGM Peringatkan Risiko Investasi Asing Ancam Peternak Lokal
Peternak ayam di Desa Winong, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah terpaksa menaikkan harga karena operasional tinggi. [Suara.com/Citra Ningsih]
Baca 10 detik
  • Indonesia mengalami surplus produksi telur ayam nasional sebesar 6,34 juta ton pada tahun 2025 yang melampaui kebutuhan konsumsi.
  • Prof. Budi Guntoro dari UGM mengimbau pemerintah mengkaji ulang wacana investasi asing karena mengancam eksistensi peternak rakyat lokal.
  • Pemerintah didorong memberdayakan peternak melalui perbaikan sistem distribusi dan koperasi daripada menambah kapasitas produksi dengan modal asing.

Namun, Prof. Budi membantah argumen ini dengan data. Menurutnya, kebutuhan telur untuk program ambisius tersebut sebenarnya relatif kecil jika dibandingkan dengan total produksi nasional.

Estimasi kebutuhan telur untuk MBG hanya sekitar 700 juta butir per tahun. Angka ini setara dengan 0,6 hingga 0,7 persen dari total produksi telur nasional.

"Program MBG seharusnya menjadi peluang untuk menyerap surplus produksi dan menstabilkan harga, bukan justru menjadi alasan untuk menambah kapasitas produksi melalui investasi baru," jelasnya.

Alih-alih membuka pintu bagi investor asing, pemerintah didorong untuk fokus pada solusi yang memberdayakan peternak lokal.

Baca Juga:UGM-Bank Mandiri Taspen Lanjutkan Kemitraan, Siapkan Talenta Muda dan Literasi Pensiun

Penguatan koperasi peternak, skema kontrak pembelian jangka menengah yang adil, serta perbaikan sistem distribusi dapat menjadi jalan keluar untuk memastikan kebutuhan program MBG terpenuhi sekaligus menyejahterakan peternak rakyat.

Pada akhirnya, isu ini bermuara pada pertanyaan fundamental tentang kedaulatan pangan. Menurut Prof. Budi, kedaulatan pangan bukan hanya tentang mencukupi jumlah produksi, tetapi juga tentang siapa yang memegang kendali produksi dan sejauh mana kebijakan negara berpihak pada pelaku usaha kecil.

"Dalam kondisi surplus seperti saat ini, langkah yang lebih tepat adalah memperkuat peternakan rakyat, bukan membuka ruang dominasi bagi modal besar, termasuk asing," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak