Anggaran BNPB Terus Menyusut, Pakar Sebut Indonesia Bisa Terjebak dalam Siklus Respons Bencana

Penurunan drastis anggaran BNPB dikhawatirkan melemahkan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Indonesia, membuat penanganan hanya berfokus pada respons pascakejadian.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 08 September 2026 | 19:36 WIB
Anggaran BNPB Terus Menyusut, Pakar Sebut Indonesia Bisa Terjebak dalam Siklus Respons Bencana
Warga terpaksa mengambil air di sumber mata air akibat bencana kekeringan di Gunungkidul. (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Anggaran BNPB mengalami penurunan signifikan dari tahun 2024 hingga mencapai Rp491 miliar pada 2026.
  • Pakar UMY Rahmawati Husein menyatakan penurunan anggaran tersebut dikhawatirkan dapat melemahkan upaya mitigasi bencana.
  • Indonesia mencatat 3.176 kejadian bencana sepanjang 2025 yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi.

Rahmawati menambahkan, hubungan pendanaan dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah mestinya juga ditingkatkan. Pemda perlu memperkuat inovasi dan komitmen anggaran untuk kebencanaan karena urusan bencana pada dasarnya banyak berlangsung di daerah.

Terlebih anggaran daerah masih banyak diarahkan pada kebutuhan infrastruktur yang bersifat konvensional. Sedangkan penguatan kapasitas kebencanaan belum menjadi prioritas.

Bahkan ia menilai masih ada kecenderungan pemerintah daerah menunggu DSP dari pemerintah pusat ketika bencana terjadi. Padahal bis saja alokasi dana pemerintah pusat terbatas.

"Kadang bencana itu tidak dianggap penting, nunggu Dana Siap Pakai-nya pemerintah pusat. Kalau ada bencana, jadi mitigasi tidak dianggarkan di daerah," ungkapnya.

Baca Juga:Gagal Amankan Aksi di Simpang Empat Gramedia, JPW Kecam Pembiaran Bentrokan dan Keterlibatan Ormas

Karenanya Rahmawati meminta pemerintah memastikan skema pooling fund atau skema pengumpulan dana kebencanaan dimanfaatkan untuk membiayai mitigasi dan kesiapsiagaan.

Mekanisme pendanaan juga harus dibuat lebih fleksibel agar pemda tidak kesulitan mengakses anggaran. Terlebih masih banyak daerah yang belum mengakses pooling fund karena belum memahami mekanisme dan tata cara pemanfaatannya.

"Namun kemudahan tersebut harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat, perlu monitoring supaya malah dananya nanti dikorupsi," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga:Sempat Dirawat, Panti Rapih Pastikan 6 Mahasiswa Korban Demo Sudah Dipulangkan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak