-
Sebastiana Bwarleling kuliah Radiologi di Unisa Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate.
-
Pengalaman kerja di Ternate membuatnya terbiasa berinteraksi dalam keberagaman, sehingga mudah beradaptasi meski berbeda latar agama dan usia.
-
Unisa Yogyakarta tegaskan komitmen inklusivitas, dengan puluhan mahasiswa non-Muslim bergabung serta dukungan beasiswa besar bagi ratusan mahasiswa.
Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menyampaikan bahwa dari 14.872 pendaftar, sebanyak 2.878 mahasiswa baru diterima. Mereka berasal dari 34 provinsi dan empat negara, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.
Tahun ini, puluhan mahasiswa non-Muslim dari Hindu, Katolik, dan Kristen turut bergabung. Unisa juga menyalurkan beasiswa Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa.
Warsiti menegaskan keberagaman adalah kekayaan yang harus dijaga, dengan mahasiswa didorong tumbuh berintegritas, toleran, dan adaptif terhadap teknologi.
Mataf sebagai Ruang Potensi Mahasiswa
Baca Juga:70 Mahasiswa Kesehatan Unisa Siaga di Lapangan: Antisipasi Kerusuhan Demo, Prioritaskan Keselamatan
Ketua Umum PP 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menekankan bahwa Mataf bukan sekadar ajang perkenalan, melainkan ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi mahasiswa.
Semua mahasiswa berhak mendapat akses informasi, fasilitas, dan program pengembangan karakter, termasuk kegiatan sesuai minat seperti Tapak Suci.
“No one left behind. Unisa Yogyakarta menyediakan itu semuanya, fasilitas yang ada untuk menjadikan kalian semua kelak menjadi generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan tentunya peduli terhadap sesama," tegas Salmah.