Pembukaan Sawit Dicap Pemicu Karhutla, Lahan Terlantar Diklaim Justru Jadi Ancaman

Ditjen Perkebunan menyatakan karhutla bukan konsekuensi pembukaan lahan sawit. Lahan sawit terkelola justru miliki titik api lebih kecil dibanding lahan terlantar.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 24 September 2026 | 16:10 WIB
Pembukaan Sawit Dicap Pemicu Karhutla, Lahan Terlantar Diklaim Justru Jadi Ancaman
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan, Iim Mucharam menyampaikan paparan terkait karhutla di Yogyakarta, Kamis (24/9/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Direktur Tanaman Kelapa Sawit Iim Mucharam menyatakan pembukaan lahan dengan cara membakar sudah dilarang Undang-Undang Perkebunan di Yogyakarta, Kamis (24/9/2026).
  • Penelitian BRIN periode 1996 hingga 2023 menunjukkan titik api di lahan perkebunan kelapa sawit yang terkelola justru semakin kecil.
  • Kepala Divisi Penyaluran SDM Sudi Bawa Suwita menyebut pelatihan dilakukan agar petani memahami aturan, perlindungan lingkungan, dan prinsip keberlanjutan.

SuaraJogja.id - Pengembangan industri kelapa sawit kerap dikaitkan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi beberapa waktu terakhir di sejumlah wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan. Pembukaan perkebunan lahan melalui pembakaran butan disebut-sebut dilakukan demi biaya operasional berkebun yang murah.

Namun Direktorat Jenderal Perkebunan menyatakan kebakaran tidak bisa begitu saja dilekatkan sebagai konsekuensi pembukaan lahan sawit. Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan, Iim Mucharam, mengatakan pembukaan kebun dengan cara membakar sebenarnya sudah dilarang dalam Undang-Undang Perkebunan.

"Di Undang-Undang Perkebunan sebenarnya sudah clear, ada namanya larangan untuk pembukaan kebun dengan cara membakar," papar Iim disela Program Pengembangan SDM Sawit di Yogyakarta, Kamis (24/9/2026).

Bahkan menurut Iim, dalam regulasi lingkungan hidup terdapat ketentuan mengenai pembukaan lahan dengan memperhatikan kearifan lokal. Ketentuan tersebut memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan sawit.

Baca Juga:Buntut Karhutla, Kementerian LHK Segel 48 Perusahaan

Namun sayangnya, ruang yang berkaitan dengan kearifan lokal tersebut terkadang dimanfaatkan oleh oknum yang tidak menjalankan seluruh persyaratan. Kondisi tersebut yang kemudian dapat memunculkan potensi kebakaran.

"Untuk membuka lahan sesuai dengan kearifan lokal itu dibutuhkan banyak sekali persyaratan-persyaratan. Nah, ini yang agak-agak sering kurang dipatuhi," ujarnya.

Namun Iim mengklaim, dari data penelitian mengenai titik api karthutla justru menunjukkan gambaran yang berbeda pada lahan yang telah dikelola jadi sawit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti BRIN terhadap titik api sejak 1996 hingga 2023, bahkan saat ini, titik api di lahan yang telah terkelola untuk perkebunan kelapa sawit disebut semakin kecil.

Sebaliknya lahan terlantar yang dipenuhi semak belukar justru dinilai memiliki potensi lebih besar terhadap munculnya titik api.

"Untuk lahan-lahan yang sudah terkelola untuk kelapa sawit itu malah semakin kecil titik apinya. Tetapi untuk lahan yang terlantar, semak belukar, itu yang berpotensi," katanya.

Baca Juga:Sempat Berenang Ditolong Warga, Pekerja Tenggelam Saat Angkut Buah Sawit

Iim menambahkan, sebenarnya petani maupun perusahaan yang telah mengelola perkebunan sawit memiliki kepentingan besar untuk mencegah kebunnya terbakar. Sebab kebakaran akan berdampak langsung terhadap perkebunan yang mereka kelola.

Iim menyebut produktivitas sawit Indonesia saat ini sekitar 3,6 ton per hektare. Dengan adanya karthutla, maka produktivitas tersebut dimungkinkan menurun meski hingga kini belum didapatkan angka pastinya.

"Kalau sudah petani ataupun perusahaan swasta itu pasti mereka menjaga bagaimana perkebunan itu jangan sampai terbakar," ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya juga bukan berdiam diri dengan adanya karhutla. IIm menyatakan pihaknya pencegahan kebakaran melalui Direktorat Perlindungan Perkebunan. Upaya tersebut dilakukan bersama sektor kehutanan dan pihak lainnya.

Pencegahan juga tidak bisa hanya mengandalkan manusia. Namun faktor alam dan kondisi iklim ikut menjadi pemicu karhutla.

"Ini kan tidak hanya faktor manusianya, tapi faktor alam. Titik-titik api itu juga faktor alam," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak