Eko Minta Muhammadiyah Lakukan Kajian Mendalam Soal Fatwa Vape Haram

Galih Priatmojo
Eko Minta Muhammadiyah Lakukan Kajian Mendalam Soal Fatwa Vape Haram
Ilustrasi vape atau rokok

Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa vape haram.

SuaraJogja.id - Para pelaku industri vape menanggapi fatwa haram yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Para pelaku industri Vape berharap dibukanya peluang diskusi dengan organisasi massa yang mengeluarkan fatwa larangan vape dan juga dengan pemerintah.

Salah satu pelaku Industri Vape, Eko HC mengatakan, semua organisasi berhak mengeluarkan kebijakan atau fatwanya berdasarkan variable argumentasi masing-masing. Tetapi sebenarnya yang menarik adalah tahun 2010 yang lalu, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram untuk rokok dan tahun 2020 ini mereka juga mengeluarkan fatwa yang sama untuk vape.

"Sebenarnya Muhammadiyah itu ingin mengurangi prevelensi terhadap rokok. Dan vape ini semangatnya sama," ujarnya.

Menurutnya antara pengguna vape dengan Muhammadiyah itu semangatnya sama ingin mengurangi prevelensi terhadap rokok. Ia menyebutkan, jika dilihat dari data yang ada prosentase prevelansi penggunaan rokok itu setiap tahunnya mengalami kenaikan. Data WHO menyebutkan jika ada 220 ribu orang meninggal karena rokok.

Sebenarnya, lanjutnya, yang ingin benar-benar berhenti karena ada fatwa, ada gambar-gambar larangan dan akibat buruk merokok ternyata hanya 30 %. Dan ia mencatat yang benar-benar berhasil berhenti mengkonsumsi rokok hanya sekitar 0,5 %. 

"Artinya apakah larangan ataupun fatwa akan cukup efektif karena faktanya pertumbuhannya cukup tinggi,"ucap Eko.

Karena menurutnya para perokok itu memerlukan solusi lain di mana mereka tentu tidak bisa tiba-tiba berhenti merokok. Maka diciptakanlah vape sebagai tahapan sebelum akhirnya berhenti merokok. Oleh karena itu, para pelaku industri vape ingin membuka dialog organisasi massa seperti Muhammadiyah ataupun pemerintah supaya angka prevelansi perokok berkurang.

"Kalau terjadi diskusi, mudah-mudahan akan ada kajian atau penelitian lebih dalam benar apa tidak sih seperti yang terjadi di Inggris di mana mereka berhasil mengurangi perokok dan mengurangi anggaran kesehatannya akibat berhentinya merokok ini,"paparnya.

Ia berharap agar ada kajian lebih lanjut terkait dengan penggunaan vape tersebut. Karena selama ini yang digunakan sebagai dasar larangan vape adalah kajian dari Amerika Serikat. Dan kajian yang digunakan oleh para pelaku vape ini adalah kajian di Inggris dan beberapa negara yang lain di mana menyebutkan vape ini 95% lebih aman dibanding rokok.

Lebih jauh, Dokter spesialis paru-paru yang juga @badassador Vape,  dr Arifandi Sanjaya mengatakan Vape merupakan metode peralihan dari perokok untuk sampai ke hidup tanpa nikotin sama sekali. Makanya kenapa sebenarnya untuk keadaan sekarang yang disarankan untuk menggunakan Vape adalah perokok. Sementara untuk masyarakat yang mungkin dulunya tidak merokok, dirinya tidak menyarankan untuk menggunakan vape.

Karena memang tetap akan ada perubahan dengan orang yang menggunakan vape namun tidak merokok. Karena ada benda asing yang masuk seperti ada beberapa gas yang masuk dibandingkan dengan dibandingkan dengan gas yang biasa dihirup di udara ini.

"Jadi kalau ada perubahan pasti ada perubahan," ungkapnya.

Ia meminta masyarakat harus melihat dari sisi lain di mana ada perubahan yang baik saat mereka beralih dari rokok ke vape. Karena hasilnya akan lebih baik di mana gas buang emisinya jauh lebih bagus dibanding rokok, tidak ada TAR ataupun carbomonoksida di mana karbonmonosikda inilah yang menyebabkan sesak nafas.

Namun ia mengakui jika di dalam vape masih ada nikotin dengan jumlahnya yang bervariatif, hal ini akan memudahkan pengguna untuk tidak adikfif.

"Tetapi ada rasanya kecanduannya, tidak sekuat rokok. Seperti itu," tambahnya.

Arifandi menyebut dari 100 orang pengguna vape yang pernah ia rongtsen paru-parunya, 95% di antaranya hasilnya menunjukkan keadaan baik. Meski begitu hasil tersebut tak sepenuhnya menggambarkan bahwa menggunakan vape lebih baik daripada merokok.

"Sebab hal itu bisa terjadi karena ada beberapa kemungkinan di antaranya karena tidak merokok lama, atau mungkin awalnya yang vapersnya sebelumnya tidak merokok di mana ketika terkena vape hasil foto rongtsennya bagus. Ke depan perlu ada penilitian lebih lanjut apakah vape ini bisa digunakan lebih lama atau tidak," ujarnya.

Kontributor : Julianto

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS