facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sempat Terpuruk, Perajin Gerabah Kasongan Mulai Kebanjiran Order

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Rabu, 16 September 2020 | 11:42 WIB

Sempat Terpuruk, Perajin Gerabah Kasongan Mulai Kebanjiran Order
Dicky Bisma Saputra (23) pendiri Lembaga Pendidikan Gerabah Nangsib Keramik yang berada di Kasongan, Bantul bersama dengan gerabah hasil buatannya, Rabu (16/9/2020). (Istimewa Bisma).

Saat awal pandemi, para perajin gerabah kasongan sempat sepi pengunjung. Terakhir pengunjung datang di awal Maret lalu.

Selain itu jika diajarkan kepada kalangan anak-anak SD, SMP hingga SMA, di samping menumbuhkan kreativitas juga dapat melatih perasaan. Pasalnya menurut Bisma, salah satu kunci pembuatan gerabah sendiri adalah kesabaran.

Kendati lembaga pendidikan pembuatan gerabah miliknya sedang meredup, Bisma mengaku justru industri gerabah malah meningkat di era pandemi sekarang ini. Hal itu tidak lepas dari pesanan berbagai pihak yang menggunakan gerabah sebagai fasilitas penunjang protokol kesehatan semisal wastafel, padasan dan berbagai jenis lainnya.

"Sekarang bentuk pot juga sedang naik, mungkin karena work from home atau seperti apa jadi cari kegiatan di rumah. Banyak pesanan berbagai ukuran dan bentuk," tuturnya.

Hal itu juga sejalan dengan pesanan ekspor yang mulai kembali bangkit. Tidak dipungkiri bahwa beberapa waktu lalu atau tepatnya satu bulan setelah virus corona ditetapkan sebagai pandemi memang ada pembatasan tersendiri dalam melakukan ekspor.

Baca Juga: 2 Bapaslon Pilkada Bantul Lolos Tes Kesehatan, Masih Harus Lengkapi Berkas

Bisma mengungkapkan ada karakteristik tersendiri terkait dengan jenis produk yang dipasarkan melalui ekspor dan lokal. Hal itu nantinya akan memengaruhi daya beli setiap pelanggan di wilayah berbeda.

"Produk ekspor punya karakteristik sendiri. Itu nanti berbeda dengan keinginan atau pun daya belinya dengan orang sini. Luar negeri lebih suka yang antik sehingga perlu finishing agar terlihat kuno dan semacamnya. Intinya tiap negara ada treatment khusus. Kalau untuk bentuk juga tergantung dengan buyer sendiri," paparnya.

Ditambahkan Bisma bahwa untuk presentase yang pendapatan yang diperoleh dari ekspor maupun lokal tidak jauh berbeda. Bahkan saat ini pasar lokal menjadi lebih meningkat sesuai dengan tren yang ada.

"Saat ini malah rame lokal karena bentuk-bentuk yang diciptakan dari pengarajin untuk lokal ini kan sudah mempunyai perkumpulan atau komunitas tersendiri. Semisal tanaman, tidak mungkin orang cuma punya satu di rumah. Selisih tidak jauh beda," jelasnya.

Sementara itu Pengelola Koperasi Kasongan Usaha Bersama (KUB), Sundari mengakui penurunan sempat dialami oleh beberapa pengerajin gerabah di Kasongan tiga bulan awal setelah pandemi dinyatakan meluas di Indonesia. Bahkan tidak sedikit pengerajin yang benar-benar berhenti produksi dan menutup tokonya untuk sementara.

Baca Juga: Wacana Rapid Test bagi PPS, Pemkab Bantul Tunggu Perkembangan Pandemi

"Hanya beberapa saja yang buka. Baru setelah lebaran, mulai ada pengunjung ditambah sekarang juga sedang tren sekali pot-pot tanaman seperti itu. Jadi bisa dibilang sekarang sudah sebanding lagi setelah sempat berhenti kemarin," kata Sundari.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait