alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Soal Revitalisasi Benteng Wetan Keraton, Begini Tanggapan Arkeolog UGM

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora Rabu, 20 Oktober 2021 | 13:29 WIB

Soal Revitalisasi Benteng Wetan Keraton, Begini Tanggapan Arkeolog UGM
Seorang pengendara melintas di depan pembangunan Benteng Wetan Keraton Yogyakarta, Jalan Brigjend Katamso, Gondomanan, Kota Jogja, Rabu (13/11/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Revitalisasi Benteng Wetan Keraton Yogyakarta telah dimulai.

SuaraJogja.id - Revitalisasi Benteng Wetan Keraton Yogyakarta telah dimulai. Beberapa bangunan sudah dirobohkan dan juga tali asih terhadap warga terdampak di Jalan Kenekan, Kemantren Keraton, Kota Jogja sudah diberikan.

Rencana pembangunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2022 itu mendapat tanggapan dari Arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Inajati Adrisijanti. Menurut dia revitalisasi benteng sebaiknya mengembalikan kondisi seperti sebelumnya. Namun perlu juga memperhatikan lingkungan sosial dan perlu biaya yang tinggi.

Dosen Pascasarjana UGM itu menjelaskan bahwa benteng berfungsi sebagai pagar keamanan saat era kerajaan di Yogyakarta. Bahkan benteng merupakan bagian penting yang ada di sebuah kota pada zaman dulu.

Arkeolog UGM, Inajati Adrisijanti memberi keterangan pada wartawan saat ditemui di Kantor Kedaulatan Rakyat, Kota Jogja, Rabu (20/10/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]
Arkeolog UGM, Inajati Adrisijanti memberi keterangan pada wartawan saat ditemui di Kantor Kedaulatan Rakyat, Kota Jogja, Rabu (20/10/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

"Misal saat kerajaan Mataram Islam yang ada di Kotagede itu, mereka memiliki benteng. Kalau arkeolog bisa mengetahui letaknya. Nah di Jogja, benteng itu dibangun untuk pertahanan," kata Inajati ditemui SuaraJogja.id di Kantor Kedaulatan Rakyat, Rabu (20/10/2021).

Baca Juga: Diisi Akademisi hingga Seniman, Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Dikukuhkan

Ia melanjutkan, benteng yang dibangun oleh Keraton Yogyakarta sebelumnya memiliki parit-parit yang juga berfungsi sebagai keamanan. Sehingga, saat warga atau raja yang akan masuk ke dalam keraton harus menyeberang melalui jembatan.

"Jagang (parit pertahanan) itu kan lebar dan dalam, itu digunakan untuk pertahanan. Melihat luar benteng yang ada di Jogja, jagang itu sudah berubah menjadi bangunan toko dan sebagainya. Disisakan sedikit di pojok benteng wetan (timur) dekat pohon pos polisi itu," terang wanita yang akrab disapa Poppy ini.

Benteng sendiri memiliki dua lapisan, pertama disebut Baluwarti, yaitu benteng yang ada di luar yang satu bangunan memanjang dengan Pojok Benteng atau Jokteng yang mengelilingi rumah warga.

Sementara satu lagi Cepuri, yakni benteng yang ada di dalam Baluwarti yang mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta.

"Jokteng Wetan itu dulunya kan dihancurkan oleh serbuan  tentara Inggris. Alat tempur mereka juga lebih modern daripada kita, sehingga mengangkut hartanya Keraton termasuk naskah-naskah penting," ujar dia.

Baca Juga: Dipermalukan PSIM Yogyakarta, AHHA PS Pati Diledek Warganet: Otw Liga 3

Inajati mengatakan revitalisasi benteng Keraton juga perlu melihat kondisi sosial lingkungan dan juga pengeluaran ekonomi. Mengingat kondisi di sekitar benteng sudah ditempati masyarakat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait