Apalagi, saat ini TPST Piyungan tutup hingga pukul 16.00 WIB. Walaupun mereka sudah sampai ke TPST Piyungan, namun pengelola tetap tidak mentolerir. Armada pengangkut sampah terpaksa harus membawa kembali truk penuh sampah ke Kantor DLH.
Untuk mengantri tersebut memang seringkali membuat pengeluaran mereka lebih banyak. Di samping membutuhkan BBM yang lebih banyak, mereka juga sering harus mengeluarkan membeli konsumsi.
Operator TPST Piyungan, Marwan mengakui kondisi TPST Piyungan memang sudah penuh sehingga ketika akan membuang sampah harus mengantri. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin banyaknya volume sampah yang semakin banyak.
"Setiap tahun itu naik 50 ton. Sekarang sudah 750 ton perhari. Akan meningkat di awal pekan,"kata dia.
Kenaikan tersebut juga terlihat pada sampah-sampah yang dibawa oleh armada pengangkut sampah swasta. Saat ini dia menyetor retribusi armada sampah swasta sampai Rp 8 juta. Padahal sebelumnya maksimal hanya Rp 5 juta.
Pihaknya sudah mengerahkan 3 alat berat untuk memperlancar proses pembuangan sampah dan kemudian meratakan sampah-aampah terwehut. Namun nampaknya mereka masih kewalahan menangani sampah yang dibawa ratusan armada-armada tersebut.
Antrean memang masih terjadi dan terkadang sampai mengular. Bahkan mereka terpaksa menurunkan personil kantor pengelola untuk mengatur antrian tersebut. Terlebih ada beberapa titik jalan yang oleh warga dilarang untuk mengantre.
Kontributor : Julianto
Baca Juga:Banjir dan Tanah Longsor Landa Piyungan, Jalur Jogja-Wonosari Sempat Terputus