Ekonomi Membaik, Pengusaha Kerajinan dan Mebel DIY Ogah Disebut Miskin se-Jawa

Menurut Timbul, perekonomian DIY pasca pandemi COVID-19 terus mengalami pemulihan.

Galih Priatmojo
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:04 WIB
Ekonomi Membaik, Pengusaha Kerajinan dan Mebel DIY Ogah Disebut Miskin se-Jawa
Peluncuran JIFFINA 2023 di Yogyakarta, Selasa (24/01/2023). [Kontributor/Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Tanggapan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut DIY merupakan propinsi termiskin se-Jawa pada 2023 ini kembali muncul. Kali ini Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komda DIY menolak bila DIY dianggap menjadi kota miskin dibandingkan propinsi lain di Jawa.

"Saya kok nggak begitu yakin ya dengan data [bps] kalau jogja paling miskin se-jawa. Data dari kita itu valid, di data yang lain mungkin[angka kemiskinan] tidak valid, ditingkatkan," ujar Ketua Asmindo Komda DIY, Timbul Raharjo disela rangkaian Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2023, Timbul Raharjo di Yogyakarta, Selasa (24/01/2023).

Menurut Timbul, perekonomian DIY pasca pandemi COVID-19 terus mengalami pemulihan. Sebab berbagai sektor mulai membaik, termasuk kerajinan dan mebel yang jadi salah satu bisnis penunjang perekonomian DIY.

Ekspor berbagai kerajinan, mebel dan furniture juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Meski konflik perang Ukraina dengan Rusia masih berjalan, buyer dari berbagai negara masih mengimpor berbagai produk dari DIY. Suplier kerajinan dan mebel di DIY pun banyak, mulai dari kecil hingga suplier besar yang ekspor ke berbagai negara.

Baca Juga:Masuk Wilayah KLB Campak, Dinkes DIY Catat 48 Kasus Sepanjang Tahun 2022

"Kemiskinan itu diblow up biar dapat bantuan. Karenanya jadi pertanyaan saya, data [kemiskinan diy] yang disampaikan itu benar atau tidak, saya tidak percaya," tandasnya.

Timbul berpendapat, angka kemiskinan bisa saja disampaikan demi kepentingan tertentu. Misalnya saja untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Bila DIY merupakan propinsi termiskin, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) disebut justru nomor dua se-Indonesia setelah DKI Jakarta. Usia Harapan Hidup di DIY pun mencapai 75,08 tahun.

Harapan Lama Sekolah bahkan tertinggi di Indonesia yaitu 15,65 tahun. Pengeluaran per kapita DIY tertinggi kedua yaitu Rp 14,48 juta.

"Kita [diy] itu daerahnya santai, tidak kemrungsung (terburu-buru-red), secara ipm umur pun juga lebih baik dari daerah lain," ujarnya.

Baca Juga:Tamu-tamu Hotel Mulai Lari ke Solo, PHRI DIY: Kalau Terlena Bisa Terlibas

Timbul menambahkan, meski sempat kolaps saat pandemi, sektor kerajinan dan mebel di DIY sudah mulai bangkit. Meski kondisi global mempengaruhi pasar internasional, saat pandemi maupun perang Ukraina-Rusia, permintaan pasar akan produk-produk kerajinan di DIY masih saja meningkat.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak