Dia juga meminta kepada para pemangku kepentingan yang bertanggungjawab bagi bekerjanya “check dan balances”. Pemangku kepentingan juga harus benar benar menjalankan tugas utamanya, agar demokrasi berjalan secara baik, dan tidak dibiarkan mengalami kemunduran atau bahkan dibiarkan dihancurkan fondasinya.
"Kembalilah kepada nilai-nilai luhur bangsa dan jangan biarkan institusi demokrasi dikuasai oleh napsu angkara yang mengkhianati Pancasila dan UUD'45,"ajak dia.
Dia juga mengajak kepada kaum terpelajar atau kaum intelektual, yang punya tugas mulia, baik tugas intelektual maupun moral, untuk bersama-sama menjaga etika dan moral, sehingga dapat menjadi bagian dari kompas moral bagi pergerakan bangsa.
Dalam konteks ini, semua berharap agar kaum terpelajar dapat berdiri di barisan terdepan oleh karena independensinya, sehingga segala potensi kerusakan etika dan moral dapat dicegah, sebelum berkembang terlalu jauh. Keteladanan kaum intelektual untuk melakukan tobat etika dan moral, akan memungkinkan sejarah bergerak maju.
Baca Juga:Gandeng Suara.com, Universitas Amikom Yogyakarta Tambah Peluang Kerjasama MBKM
"Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersamasama menjadi saksi atas seluruh proses politik yang berlangsung, dan tidak tinggal diam atas segala kerusakan yang terjadi,"himbaunya.
Dosen Purna Tugas UNY, Prof Dr Yoyon Suryono mengatakan menjelang pemilu 2024 ini banyak hal mulai langkah pertama sampai nanti tanggal 14 Februari ini para pemimpin bangsa justru terus menerus bertindak melanggar etika dan moral serta merasa berada di atas peraturan perundangan. Oleh karenanya jika tidak dikawal maka keadaan seperti ini akan berlangsung secara terus menerus.
"kehidupan bangsa dan negara tanpa etika dan moral akibatnya akan berbahaya bagi perkembangan bangsa dan negara ke depan. Oleh karena itu, mari kita bertobat bersama,"ujarnya.
Kontributor : Julianto
Baca Juga:Presiden Jokowi Berharap Kampus UNU Yogyakarta Jadi Lokomotif Kemajuan Pendidikan