Program yang merupakan inisiasi FISIP UAJY dan Suara.com ini lahir dari permasalahan yang terjadi di masyarakat kekinian. Laju penetrasi yang terus meningkat hingga tahun 2024 tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Fenomena ini tak pelak menimbulkan banyak ekses, salah satunya penyebaran hoaks yang cukup masif melalui media sosial.
Sekadar informasi, penetrasi internet di Indonesia hingga tahun 2024 terus meningkat. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 menyatakan bahwa sekitar 221 juta jiwa penduduk Indonesia menggunakan internet. Gen Z (Kelahiran 1997-2012/12-27th) dan milineal (kelahiran 1981-1996/ 28- 43th) adalah dua generasi dengan penetrasi internet tertinggi dengan kontribusi 34,40% (Gen Z), dan 30,62% (Generasi Milineal).
Berdasarkan hasil penelitian, di tingkat ASEAN literasi digital masyarakat Indonesia masih di angka 62%, jauh di bawah rata-rata negara ASEAN yang berada di angka 70 persen. Rendahnya literasi digital di Indonesia berdampak pada beberapa hal.
Pertama, peredaran hoaks di masyarakat. Peredaran hoaks cenderung meningkat per tahunnya melalui media sosial. Dibuktikan pada jelang Pemilu 2024 lalu terdapat 2.882 konten hoaks menyebar di media sosial (Bestari, 2024). Survei Katadata Insight Center (KIC) melaporkan, setidaknya 30 persen sampai hampir 60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya.
Baca Juga:Peringkat Universitas Atma Jaya Yogyakarta: Keunggulan dan Alasan Mengapa UAJY Jadi Pilihan Tepat
Kedua, perilaku masyarakat dalam menggunakan media sosial. Laporan Visi Indonesia Digital 2045 (Kominfo, 2024) menyebutkan penggunaan internet masih banyak dilakukan untuk tujuan non produktif seperti mengisi waktu luang karena masyarakat Indonesia cenderung menyukai konten ringan yang tak mencerdaskan dan minim etika berinternet di medsos (menyebarkan isu SARA, hoaks, hingga ujaran kebencian).
Di sisi lain, kebebasan untuk menggunakan media sosial mendorong munculnya banyaknya digital creator. Konten yang dibuat oleh digital content creator ini cenderung lebih disukai generasi Z. Sementara itu, salah satu problem penting di Indonesia bahwa digital creator menjadi pihak penyebar hoaks.
Digital creator seringkali tidak sadar bahwa konten yang dibuat bisa mengandung hoaks. Dalam proses pembuatan konten, digital creator cenderung tidak menggunakan teknik dan prinsip tertentu seperti yang dilakukan oleh media profesional.