"Horor sejak lama menjadi bagian yang valid dari industri maupun estetika visual kita," kata Hikmat.
Biaya produksi yang fleksibel dan pangsa pasar yang solid menjadikan horor akan terus dilirik banyak rumah produksi. Film horor Indonesia pun, kata Hikmat tidak hanya dinikmati di dalam negeri tetapi juga didistribusikan secara internasional.
"Jadi ada hal yang otentik dari film horor Indonesia yang juga ternyata punya nilai ekonomi di pasar internasional, lalu yang masuk ajang penghargaan. Artinya memang menguntungkan, itu lah kenapa PH-PH besar mengeksploitasi genre ini to," ungkapnya.
Selain itu, film horor memiliki daya tarik utama dari segi biaya produksi yang relatif rendah. Apalagi ketika dibandingkan dengan genre lain seperti film superhero yang memerlukan teknologi CGI canggih nan mahal.
Baca Juga:Dukung Partisipasi Masyarakat, Layanan Rekam KTP Kota Jogja Tetap Buka saat Pilkada 2024
"Lalu bisa murah bikinnya. Misalnya film superhero dengan CGI akan tinggi (biaya produksi), belum lagi head to head dengan film superhero hollywood, resiko investment tidak seimbang dengan pasar sudah terbentuk atau enggak," tandasnya.
"Sementara horor lebih solid secara pasar dan biaya lebih murah. Nyaris semua skala PH dari yang rumahan sampai yang big studio itu bisa bikin horor dengan kelas masing-masing," imbuhnya.
![Tempat wisata Plunyon Kali kuning jadi salah satu tempat syuting film horor fenomenal KKN di Desa Penari. [Suarajogja.id/Hiskia Andika Weadcaksana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/11/19/23554-lokasi-film-horor-kkn-di-desa-penari.jpg)
Memang tidak seluruh film horor dihasilkan dengan budget yang kecil tapi setidaknya biaya itu lebih fleksibel ketika dibandingkan dengan proyek lain. Hikmat menuturkan pada produksi skala kecil dengan anggaran di bawah Rp3 miliar saja setidaknya sudah bisa mencapai break-even point dengan 150-200 ribu penonton.
Sedangkan untuk produksi besar dengan biaya sekitar Rp11-12 miliar, target penonton 1 juta cukup untuk menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp4-6 miliar.
Diketahui setiap perusahaan film atau rumah produksi rata-rata akan menerima keuntungan sebesar 50 persen dipotong pajak. Misalnya dengan asumsi rumah produksi menerima Rp18 ribu dari setiap tiket film yang terjual.
Sehingga tinggal dikalikan saja angka itu dengan jumlah penonton film tersebut. Penghasilan tersebut memang masih akan dikurangi dengan biaya produksi dan biaya promosi baru memperoleh angka keuntungan bersih.
Baca Juga:Jogja Uji Coba Program Makan Siang Gratis, Mahasiswa Perhotelan Siap Diterjunkan ke Sekolah
Namun ambil contoh biaya produksi sebesar KKN di Desa Penari yang mencapai Rp15 miliar. Meskipun belum termasuk dengan biaya marketing yang biasanya setara dengan biaya produksi, film Indonesia terlaris dengan 10 juta lebih penonton itu diprediksi masih untung besar.