- Polresta Yogyakarta mengungkap kasus kekerasan sistematis terhadap puluhan balita di Daycare Little Aresha, Sorosutan, yang beroperasi tanpa izin resmi.
- Sebanyak 13 tersangka ditetapkan polisi karena terbukti melakukan penyiksaan fisik, pengikatan, hingga penelantaran terhadap 53 anak korban.
- Penggerebekan pada Jumat, 24 April 2026, menemukan praktik pengasuhan tidak manusiawi yang menyebabkan trauma mendalam dan gangguan kesehatan anak.
SuaraJogja.id - Bagi para orang tua pekerja, menitipkan buah hati di daycare (tempat penitipan anak) adalah sebuah keputusan besar yang didasari kepercayaan penuh.
Mereka berharap anak-anak mendapatkan kasih sayang dan pengasuhan layak saat mereka mencari nafkah.
Namun, kepercayaan itu hancur berkeping-keping menjadi mimpi buruk bagi puluhan orang tua yang menitipkan anaknya di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Kota Yogyakarta.
Di balik tembok fasilitas yang seharusnya aman itu, tersimpan cerita horor kekerasan sistematis terhadap bayi dan balita. Bukan hanya sekadar cubitan nakal, anak-anak tak berdosa ini diduga mengalami penyiksaan fisik dan mental yang mendalam.
Baca Juga:Balita Dikunci di Kamar Mandi: Kisah Horor di Balik Pintu Daycare Little Aresha Yogyakarta
Rasa syok dan pengkhianatan dirasakan luar biasa oleh para orang tua. Noorman, salah satu ayah korban, mengaku hatinya hancur saat mengetahui kondisi sebenarnya yang dialami kedua anaknya yang sudah dititipkan sejak 2022.
Awalnya, ia mencoba berpikir positif saat melihat luka-luka di tubuh anaknya, mengira itu akibat bermain biasa. Namun, rekaman video yang beredar mengubah segalanya.
"Saya sudah menitipkan anak dari umur tiga bulan, jadi syok ketika tahu mereka dapat perlakuan kasar," ujarnya dengan suara bergetar kepada Suara.com.
![Daycare Little Aresha dipasang garis polisi. [Suara.com/Yvestaputu Sastrosoendjojo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/26/53448-daycare-little-aresha-dipasang-garis-polisi.jpg)
"Di video itu, anak-anak diikat hanya pakai popok, tanpa dipakaikan baju," jelasnya menggambarkan kondisi tak manusiawi tersebut.
Lebih menyakitkan lagi, Noorman menyadari bahwa kondisi kesehatan anaknya yang kerap memburuk ternyata berkaitan dengan perlakuan di daycare.
Baca Juga:Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja: Menyiapkan Generasi Muda Menghadapi Ancaman Bencana Alam
Kedua anaknya sering keluar masuk rumah sakit dan didiagnosis mengalami pneumonia serta gangguan paru-paru, sebuah kondisi yang tak lazim untuk anak yang seharusnya diasuh dengan baik.
Kisah serupa diungkapkan Choirunisa (34). Hatinya teriris ketika mengetahui anak balitanya yang berusia 1 tahun 5 bulan sering pulang dalam keadaan lapar dan lesu.
Fakta yang terungkap kemudian sangat menyakitkan: bekal makanan bergizi yang ia siapkan setiap pagi justru dimakan oleh para pengasuh.
"Saya juga pernah lihat yang makan [bekal dari orang tua] justru pengasuhnya," tandasnya menahan emosi.
Choirunisa semakin histeris saat penggerebekan polisi pada Jumat (24/4/2026) menemukan anaknya sedang diikat tangannya. Ia juga mendapati fakta bahwa anak-anak sering ditidurkan di lantai dingin tanpa alas yang layak.
"Anak saya juga ada luka di punggung seperti bekas pukulan benda keras," ungkapnya menunjuk bukti fisik kekerasan.