Kematian Bambang hingga Ricuh di Simpang Gramedia, Pakar: Jangan Biarkan Ormas Jadi Polisi Jalanan

Akademisi UMY soroti bahaya ormas yang terlibat politik & ambil alih wewenang negara, memicu kekerasan serta hilangnya kepercayaan publik pada hukum.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 02 September 2026 | 19:09 WIB
Kematian Bambang hingga Ricuh di Simpang Gramedia, Pakar: Jangan Biarkan Ormas Jadi Polisi Jalanan
Unjukrasa mahasiswa di Simpang Gramedia, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam. [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Akademisi UMY Sunyoto Usman menyoroti dugaan keterlibatan ormas dalam kekerasan di Jakarta dan Yogyakarta.
  • Polisi didesak menyelidiki secara transparan keterlibatan ormas yang mengambil alih kewenangan penegakan hukum negara.
  • Negara harus menegakkan hukum secara tegas guna mencegah peniruan tindakan kekerasan oleh kelompok masyarakat.

Artinya, jika sebuah kelompok melihat intimidasi atau kekerasan berhasil membubarkan pihak lain, maka metode tersebut berpotensi direplikasi di tempat lain. Hal inilah yang menurut Sunyoto jauh lebih berbahaya daripada satu insiden.

Konflik bisa berubah menjadi pola. 

Pola bisa berubah menjadi kebiasaan. Bahkan pada akhirnya, ruang publik berisiko berubah menjadi arena pertarungan antarkelompok.

"Tindakan yang dianggap berhasil mencapai tujuan cenderung akan ditiru," tandasnya.

Baca Juga:Kronologi Lengkap Aksi Simpang Gramedia Jogja, Sempat Alot Berdialog, hingga Dipukul Mundur Warga

Namun Sunyoto tidak menyarankan negara buru-buru membubarkan ormas. Sebab pembubaran justru berpotensi membuat anggota organisasi bergerak secara bawah tanah atau membentuk organisasi baru.

Solusinya adalah membatasi ruang terjadinya pelanggaran melalui penegakan hukum yang tegas dan tidak pandang bulu. Negara dalam hal ini harus memastikan tidak ada kelompok yang merasa memiliki kewenangan untuk menghakimi pihak lain hanya karena memiliki massa atau kedekatan dengan kekuatan politik.

"Mereka merasa besar dan kuat, sehingga mengambil keputusan secara sepihak tanpa melalui mekanisme hukum resmi," paparnya.

Sementara polisi, kejaksaan dan pengadilan, lanjutnya harus kembali menjadi rujukan utama masyarakat ketika terjadi konflik. Jika warga atau organisasi merasa lebih berhak menentukan siapa yang salah dan siapa yang harus dihukum, maka kewibawaan hukum akan semakin tergerus.

Sunyoto menyebut kondsi tersebut juga berkaitan dengan public distrust atau krisis kepercayaan publik. Ketika masyarakat tidak lagi percaya kepada institusi hukum, maka mereka cenderung mencari jalan sendiri untuk menyelesaikan persoalan.

Baca Juga:Demo Berujung Bentrok di Simpang Gramedia Jogja, 6 Mahasiswa Dilarikan ke RS Panti Rapih

"Msyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap pranata hukum. Akibatnya ketika terjadi masalah, mereka tidak lagi melapor ke polisi atau menempuh jalur hukum yang benar, melainkan mengambil tindakan sendiri," ungkapnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak