Indeks Terpopuler News Lifestyle

Kedaulatan Pangan Desa Bisa Dioptimalkan, Begini Caranya

Rima Sekarani Imamun Nissa | Arendya Nariswari Sabtu, 04 Juli 2020 | 15:06 WIB

Kedaulatan Pangan Desa Bisa Dioptimalkan, Begini Caranya
Singgih Kartono, penggagas SPEDAGI dan Pasar Papringan dalam WEBINAR KKD 2020. (YouTube)

Selama menghadapi pandemi, gerakan 'mletik pager' disebut menjadi alternatif dalam mengoptimalkan kedaulatan pangan desa.

SuaraJogja.id - Enterpreneur Singgih Kartono menyebut desa memegang peranan penting dalam kedaulatan pangan. Menurutnya, ada berbagai cara inovatif yang bisa dilakukan.

Singgih Kartono yang juga dikenal sebagai desainer produk SPEDAGI sekaligus penggagas Desa Papringan menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 74.954 desa dengan berbagai potensinya yang luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, desa mengalami degradasi akibat pola pendidikan kontekstual yang kemudian berpengaruh terhadap sektor pangan.

Menurut Singgih Kartono, Indonesia dan sejumlah negara lain secara umum memiliki struktur perekonomian balon udara. Desa dianggap ringan dan membantu perekonomian di kota.

"Ini sangat tidak stabil. Iki ora bener! Seharusnya struktur ini dibalik, dari balon udara menjadi gunung. Di mana desa ini seharusnya menjadi pondasi dari sebuah kehidupan, dari struktur kehidupan maupun bernegara," kata dia dalam Webinar Seri 7 Kongres Kebudayaan Desa, Sabtu (4/7/2020).

Singgih lalu mengatakan, desa tak hanya melulu berkaitan dengan romantisme. Masih adanya sejumlah masalah yang harus dihadapi berkaitan dengan industrialisasi.

Singgih Kartono, penggagas SPEDAGI dan Pasar Papringan dalam WEBINAR KKD 2020. (YouTube)
Singgih Kartono, penggagas SPEDAGI dan Pasar Papringan dalam WEBINAR KKD 2020. (YouTube)

Industrialisasi disebut telah menyedot sumber daya manusia di desa. Banyak sekali anak muda pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan pendidikan. Namun, sebenarnya kurikulum ini tidak sesuai dengan apa yang ada di kampung halaman mereka.

Hal tersebut kemudian mendorong Singgih Kartono membuka lapangan pekerjaan di desa dengan mengoptimalkan sumberdaya lokal, mulai dari pangan, lahan, dan masih banyak potensi lainnya.

"Sebenarnya kita harus melakukan istilahnya 'Mletik Pager', melompati era industri yang merugikan di mana semuanya ditransaksikan. Sekarang harusnya Go Help alias tulung tinulung melompat ke era post industri," ujarnya.

Singgih Kartono, penggagas SPEDAGI dan Pasar Papringan dalam WEBINAR KKD 2020. (YouTube)
Singgih Kartono, penggagas SPEDAGI dan Pasar Papringan dalam WEBINAR KKD 2020. (YouTube)

Salah satu wujud 'Mletik Pager' ditunjukkan lewat Pasar Papringan Spedagi yang diprakarsai oleh Singgih. Dirinya bersama warga desa Papringan, Temanggung, Jawa Tengah, berhasil menyulap lahan kotor yang sempat terabaikan menjadi tempat untuk mengangkat potensi pangan lokal.

"Pangan yang sehat ini sebenarnya muncul dari lokal. Jadi nggak ada yang namanya makanan tercampur kimia, karena di sana nggak ada bahan pangan dari proses pabrik, semuanya organik. Dan tentu saja ada edukasi kepada masyarakat desa," papar Singgih.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait