SuaraJogja.id - Suara sirine berbunyi keras hingga terdengar di seluruh penjuru Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Temon, Kulon Progo, Rabu (7/10/2020). Otoritas bandara YIA terlihat panik tak karuan. Mereka berlarian dari area parkir yang berada di paling bawah menuju ke tangga darurat yang paling dekat dengan mereka.
Dengan tetap memperhatikan kondisi sekitar. Dengan tergopoh-gopoh mereka menuju lantai mezanin atau diketahui sebagai lantai tiga di bandara YIA. Sirine masih terus berbunyi, menandakan bahaya belum usai.
Sesampainya di lantai mezanin, mereka lantas menyebar masing-masing untuk mencari tempat yang aman untuk berlindung di bawahnya. Tanpa membuang waktu mereka langsung tiarap merayap masuk ke bawah kursi dan meja yang tersedia di sana, menunggu hingga kondisi aman kembali.
Kepanikan dan upaya penyelamatan diri yang dilakukan oleh otoritas Bandara YIA itu bukan keadaan yang sebenarnya terjadi. Segala bentuk upaya penyelamatan tadi merupakan simulasi dan latihan terkait dengan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.
Baca Juga:Lesu Selama 6 Bulan, Perajin Batik Kulon Progo Maksimalkan Pasar Online
![Sejumlah pegawai di Bandara YIA, Temon Kulon Progo berlindung di lantai Mezanin dalam simulasi tsunami yang digelar BMKG, Rabu (7/10/2020). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/original/2020/10/07/74816-simulasi-penanganan-bencana-di-bandara-yia.jpg)
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Inter-governmental Coordination Group/ Indian Ocean Tsunami Warning Mitigation System (ICG/IOTWMS)-UNESCO ini rutin digelar setiap dua tahun sekali. Hal ini bertujuan untuk terus memberikan kewaspadaan dan penanganan yang baik terkait dengan bencana alam yang mengintai.
Kepala BMKG Pusat, Dwikorita Karnawati mengatakan sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk turut serta meningkatkan kemampuan dalam hal mitigasi bencana. Oleh sebab itu pemerintah melalui BMKG selalu mendorong untuk setiap daerah terus melatih kesiapsiagaan masyarakat terkait penanganan bencana itu.
"Kalau tingkat nasional dua tahun sekali tapi kalau bisa daerah harus bisa lebih sering lagi menggelar kegiatan semacam ini. Agar masyarakat dan semua pihak terkait mengerti betul respon yang harus diambil ketika ada bencana," kata Dwikorita saat ditemui awak media.
Disampaikan Dwikorita, bahwa sesuai data yang didapat pihaknya Bandara YIA sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih untuk mendeteksi lebih dini gempa bumi dan tsunami. Hal tersebut memperhitungkan dari lokasi bandara YIA sendiri yang memang berada di wilayah Pantai Selatan Jawa.
Baca Juga:LIPI Ingatkan Tsunami Besar Bisa Berulang, Buktinya Ada di Kulon Progo
Bahkan kata Dwikorita, hingga saat ini di Indonesia atau di Asia sekalipun baru bandara YIA saja yang memasang alat deteksi generasi terbaru tersebut. Dapat dibilang YIA menjadi pilot project untuk alat deteksi gempa dan tsunami. Jika nanti berhasil maka alat tersebut rencananya akan dipasang di seluruh bandara di Indonesia.