Rifka Annisa: Kekerasan Seksual di Bantul Harus Ditangani Serius

Orang yang paling rentan menjadi pelaku kekerasan seksual adalah orang yang dikenal baik oleh anak.

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Jum'at, 20 November 2020 | 20:30 WIB
Rifka Annisa: Kekerasan Seksual di Bantul Harus Ditangani Serius
Ilustrasi kekerasan seksual (Shutterstock).

SuaraJogja.id - Fenomena kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta butuh perhatian serius. Mayoritas pelaku merupakan orang-orang terdekat dari korban kekerasan.

Konselor Hukum Lembaga Rifka Annisa Yogyakarta, Nurul Kurniati mengaku memang kekerasan kepada anak cenderung dilakukan oleh orang terdekat. Beberapa diantaranya bisa jadi dilakukan oleh lansia tetapi hal itu tak bisa digeneralisasikan.

"Sebenarnya usia tidak bisa jadi patokan ya. Bisa saja lansia atau anak-anak berpotensi sebagai pelaku. Jika memang saat ini kebanyakan lansia hal itu tidak bisa jadi patokan," ujar Nurul dihubungi wartawan, Jumat (20/11/2020).

Nurul membeberkan orang yang rentan menjadi pelaku kekerasan seksual memang orang terdekat. Pasalnya mereka yang lebih sering berinteraksi dengan korban ketika dalam satu waktu.

Baca Juga:Ada Dugaan Money Politic, Bawaslu Akan Panggil Paslon Pilkada di Bantul

"Orang yang paling rentan menjadi pelaku adalah orang yang dikenal baik oleh anak. Karena mengetahui kondisi anak ini, ketika rumah sendiri, pulang jam berapa dan kebiasaan dan kondisi dari korban. Jadi dia (pelaku) sangat tau kebiasaan dan mengenal baik aktivitas korbannya," ujar dia.

Ia membeberkan bahwa seorang anak di bawah umur cukup rawan menjadi korban kekerasan. Anak tersebut tidak mau bercerita atau malah tak sadar mengalami kekerasan seksual.

"Ini fenomena yang biasa terlihat pada korban. Ada yang berani bercerita, tetapi ada juga yang tidak tahu bahwa dia jadi korban. Biasanya hal ini bisa diketahui ketika ada perubahan perilaku si anak," terang dia.

Perubahan tersebut, kata Nurul ditunjukkan dengan sikap murung korban. Selain itu dia juga merasakan sakit di sekitar alat kelaminnya.

"Banyak hal yang dia tunjukkan ketika menjadi korban kekerasan tetapi dia tidak mau bercerita. Ada juga yang takut bertemu dengan orang dewasa atau sampai menangis ketika bertemu pelaku," ujar dia.

Baca Juga:Tampil Beda, Buku Tahunan Siswa di Bantul Ini Gunakan Konsep Manusia Purba

Ia mengatakan bahwa pelaku yang salah satunya orang lanjut usia memiliki potensi untuk melakukan kekerasan pada anak. Namun, hal itu terjadi ketika pelaku tak bisa menahan hasrat seksualnya dan memang dekat di lingkungan anak kecil.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak