alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ingat Erupsi Merapi 2010, Suwondo Kapok 21 Sapinya Terpanggang Awan Panas

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Rabu, 25 November 2020 | 08:35 WIB

Ingat Erupsi Merapi 2010, Suwondo Kapok 21 Sapinya Terpanggang Awan Panas
Warga terdampak bencana erupsi Merapi merawat sapi mereka di kandang komunal Singlar. - (SuaraJogja.id/Uli Febriarni)

Saat Merapi 'punya gawe' 10 tahun lalu, Suwondo turut kehilangan 21 ekor sapi miliknya.

SuaraJogja.id - Bencana erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 2010 lalu memberi pelajaran bagi sejumlah peternak di lereng Merapi. Di antaranya adalag mereka yang tinggal di Pedukuhan Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Setelah status kegunungapian Merapi naik dari Waspada menjadi Siaga sejak 5 November 2020 lalu, Pemkab Sleman mulai memutuskan untuk mengungsikan lansia dan ternak milik warga Kalitengah Lor beberapa hari kemudian.

Pasalnya, berdasarkan rekomendasi BPPTKG Yogyakarta, radius bahaya erupsi Merapi dalam kondisi Siaga adalah sejauh 5 kilometer, sehingga warga yang tinggal di area tersebut diminta untuk mengungsi, khususnya Kalitengah Lor (Glagaharjo), Kaliadem (Kepuharjo), dan Pelemsari (Umbulharjo).

Di antara orang-orang yang memiliki ternak itu, ada Pardiwiyono, yang ikut mengungsikan ternaknya ke lokasi kandang ternak komunal di Singlar.

Baca Juga: Ada Jejak Satwa Diduga Macan di Jalur Evakuasi Merapi, Ini Kata BTNGM

Pardi merupakan satu dari para peternak terdampak Merapi yang mau langsung mengevakuasi ternak kesayangan ke kandang di dekat Barak Pengungsian Banjarsari, yang lebih populer dikenal sebagai "Barak Balai Kalurahan Glagaharjo".

Bukan tanpa alasan ia langsung sigap mengungsikan sapi-sapinya. Satu dasawarsa lalu menjadi pengalaman yang mengubah sudut pandangnya dalam mitigasi kebencanaan -- ketika seorang peternak harus pula menyelamatkan nyawa hewan-hewan yang telah dirawat sepenuh hati.

Tiga ekor sapi Pardi mati terpanggang awan panas saat erupsi terjadi 10 tahun lalu, tepat pada 26 Oktober 2010. Sapi-sapi itu mati karena tidak sempat dibawanya turun untuk diselamatkan.

"Sekarang mumpung masih sempat [dievakuasi], semoga tidak seperti dulu," harap Pardi, Selasa (24/11/2020).

Rasa syukur berselubung harapan yang sama juga ada dalam benak Suwondo.

Baca Juga: Warga Temukan Jejak Kaki Diduga Macan di Jalur Evakuasi Merapi

Lelaki yang merupakan Dukuh Kalitengah Lor itu mengungkapkan, kala erupsi Merapi 2010, banyak dari warga di dukuh setempat tidak sempat menyelamatkan ternak-ternak mereka hingga akhirnya ternak tersebut mati terkena awan panas.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait