Cuaca Ekstrem, Sleman Alami Hujan Es hingga Talut Jebol

Menurut Prakirawan Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Indah Retno Wulan, hujan es tidak akan terjadi dalam waktu yang lama, atau hanya bertahan dalam hitungan menit.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Rabu, 03 Maret 2021 | 19:23 WIB
Cuaca Ekstrem, Sleman Alami Hujan Es hingga Talut Jebol
Butiran es mengguyur sejumlah titik di Kota Jogja, Rabu (3/3/2021). - (SuaraJogja.id/HO-dok warga Danurejan)

SuaraJogja.id - Cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan dengan curah tinggi pada Rabu (3/3/2021) di Sleman memunculkan sejumlah kejadian di tanah sembada.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, hujan deras menyebabkan talut buangan air selokan yang berada di bawah Jalan Nyi Tjondro Lukito, Sinduadi, Mlati, Sleman jebol.

"Jebolnya talut tersebut membuat air selokan meluap ke area permukiman dan menggenangi beberapa rumah warga," kata dia, Rabu.

Akibat peristiwa itu, sebanyak delapan unit rumah terendam dengan 57 jiwa terdampak. Jumlah itu terdiri dari 45 dewasa, enam balita, dan enam orang lansia.

Baca Juga:Jogja Hujan Es Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak

"Hujan lebat di Kabupaten Sleman dan Kota Jogja membuat aliran air menjadi deras. Sekitar pukul 13.30 WIB talut diketahui jebol," terangnya.

Melihat kondisi itu, warga sekitar melakukan penanganan darurat dengan menutup arus aliran selokan yang menuju ke saluran pembuangan. Selain itu, ibu-ibu RT setempat membuat dapur umum.

"Kebutuhan mendesak perlengkapan tidur untuk 14 KK. Supply logistik pangan untuk kebutuhan satu hari," ungkap Makwan.

Selain talut jebol, hujan deras disertai angin kencang juga menyebabkan 27 pohon tumbang, 12 rumah rusak ringan. Selain itu, ada enam titik jaringan listrik rusak, satu tower roboh, satu mobil rusak, satu fasilitas pendidikan (BLK) rusak ringan, dan satu fasilitas ibadah rusak ringan.

Demikian juga terjadi hujan es di beberapa wilayah di Sleman, antara lain di Babadan Kalurahan Girikerto, Donokerto, Kapanewon Turi; Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman.

Baca Juga:Hujan Es Guyur Wilayah Jogja, Berikut Penjelasan BMKG

Panewu Turi Subagyo mengaku, hujan es kembali terjadi di wilayah Turi sekitar pukul 13.00 WIB. Sebelumnya, situasi serupa terjadi pada Selasa (2/3/2021).

Hujan es tersebut memiliki ukuran yang lebih kecil dari hujan es sebelumnya [Selasa]. Hujan es juga disertai dengan angin kencang, hujan es terjadi merata di wilayah Turi.

"Hujan deras hampir rata, di wilayah Turi. Angin kencang menyebabkan ada pohon kokosan tumbang melintang jalan Pancoh, Girikerto," ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Prakirawan Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Indah Retno Wulan menjelaskan, hujan es bisa terjadi saat musim hujan atau puncak musim hujan.

Saat ini, DIY sudah masuk dalam kategori puncak musim hujan yang diprakirakan terjadi hingga awal Maret.

Menurut dia, hujan es tidak akan terjadi dalam waktu yang lama, atau hanya bertahan dalam hitungan menit. Bahkan ia memastikan, hujan es yang terjadi tidak bisa mencapai waktu hingga 10 menit.

"Intensitas hujan yang cukup deras membuat suara air yang jatuh ke atap rumah masih seperti hujan es. Paling lama durasinya 2 menit," terangnya.

Hujan es tersebut bersifat lokal atau hanya terjadi pada radius dua kilometer, lanjut Indah. Hujan es disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) lebih dari 10 kilometer dan berpotensi terjadi dimana saja.

"Namun, potensinya lebih tinggi bisa terjadi di wilayah pegunungan. Karena parameter cuaca yang sangat mendukung pertumbuhan awan," imbuhnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap memperhatikan saluran air agar tidak terjadi genangan.

Sementara untuk mengantisipasi angin kencang, masyarakat diimbau untuk berteduh di bangunan yang kokoh dan menghindari baliho, pohon serta tiang listrik, tidak menghidupkan alat elektronik saat terjadi petir.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menuturkan, hujan es bermula dari saat udara hangat, lembap, dan labil terjadi di permukaan bumi.

Maka, pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas atau atmosfer dan mengalami pendinginan.

Setelah terjadi kondensasi, akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb).

Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga mencapai freezing level. Freezing level tersebutlah yang membentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.

"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es," ungkapnya.

Reni menambahkan, es yang turun akan bergesekan dengan udara. Sehingga mencair dan saat sampai di permukaan tanah, ukuran es akan lebih kecil. Hujan es, saat ini masih berpotensi tinggi terjadi pada musim hujan dan pancaroba.

Kontributor : Uli Febriarni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Hoki Kamu? Cek Peruntungan Shiomu di Tahun Kuda Api 2026
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak