Sama-sama Pakai Nomor Rumah, Ini Bedanya Bakpia Pathuk 25 dan Bakpia 75

Bakpia 75 dan Bakpia 25 sama-sama lahir pada tahun 1948 di Pathuk dan masih bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Mutiara Rizka Maulina
Jum'at, 09 April 2021 | 16:03 WIB
Sama-sama Pakai Nomor Rumah, Ini Bedanya Bakpia Pathuk 25 dan Bakpia 75
Ilustrasi perbedaan bakpia pathuk 75 dan bakpia pathuk 25. - (Suara.com/Iqbal Asaputro)

SuaraJogja.id - Bakpia merupakan salah satu makanan khas Daerah istimewa Yogyakarta yang kerap dijadikan oleh-oleh para pelancong. Sampai tahun 2021 ada ratusan, mungkin ribuan produk bakpia di kota gudeg

Di antara berbagai variasi bakpia yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, ada dua merek bakpia yang melegenda dan sampai sekarang masih menjadi kegemaran wisatawan.

Kue yang berbentuk pipih dengan ragam isian mulai dari kacang hijau hingga gula ini disebut-sebut bukan berasal dari tanah air, melainkan dari Tiongkok.

Di daerah asalnya, kue ini diberi nama Tou Luk Pia yang memilik arti kue kacang hijau. Merunut sejarahnya, makanan ringan ini dibawa oleh para imigran Tionghoa pada awal abad ke-20.

Baca Juga:Jualan Telur dan Bakpia Keliling, Kakek Ini Nafkahi 7 Anak Yatim Piatu

Bakpia dibawa oleh keluarga para pedagang Tionghoa yang juga banyak menempati pusat Kota Yogyakarta. Berbeda dengan kue keranjang yang memiliki nilai kultural saat perayaan Imlek, bakpia sendiri hanya kudapan atau camilan pelengkap dari sajian lainnya. Faktor ekonomi diduga menjadi awal mula kue pipih ini lantas diperjualbelikan.

Camilan "impor" dari Tionghoa ini kali pertama hadir di Yogyakarta dibawa oleh Kwik Sun Kwok pada tahun 1940-an. Ia menyewa sebidang tanah milik pribumi di Kampung Suryowijayan, Mantrijeron, Yogyakarta.

Awalnya, bakpian buatan Kwik berisi daging dan mengandung minyak babi. Lantaran warga Jogja banyak yang menganut agama Islam, akhirnya terjadi perubahan pada isian kue itu.

Isi dari bakpia diganti dengan kacang hijau serta disesuaikan selera masyarakat Jawa. Hasil adaptasi tersebut lantas mendapatkan respons yang cukup baik dan digemari oleh masyarakat.

Pada tahun 1980-an produksi bakpia menjadi usaha rumahan yang makin populer. Berkembanglah produsen lainnya di kawasan Pathuk.

Baca Juga:Tak Kebagian Royalti, Pongki Barata Sedih Lagunya Jadi Iklan Bakpia Jogja

Dalam sejarahnya, disebutkan bahwa pada masa tersebut produsen bakpia belum mengenal merek dagang, sehingga mereka menamai bakpia buatan rumah mereka sesai dengan nomor rumah yang ditinggali.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak